EmitenNews.com - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 21,45% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi USD126,62 juta sepanjang Januari-September 2026. Pertumbuhan laba tersebut melampaui kenaikan pendapatan yang mencapai 10,46% YoY menjadi USD352,20 juta.

Mengacu pada laporan keuangan per 30 September 2026, EBITDA PGEO juga meningkat 15,58% YoY menjadi USD287,77 juta. Sementara itu, kas dan setara kas perseroan tercatat sebesar USD713,68 juta.

Kinerja keuangan tersebut ditopang struktur permodalan yang tetap terjaga. Hingga akhir September 2026, total liabilitas PGEO turun 3,37% menjadi USD955,55 juta. Kondisi ini memberikan ruang bagi perseroan untuk melanjutkan pengembangan proyek panas bumi.

Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat, dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2026) mengatakan, pertumbuhan kinerja mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjalankan strategi bisnis secara efektif dan efisien. Menurutnya, pengembangan proyek panas bumi yang membutuhkan waktu panjang harus diimbangi dengan kemampuan menjaga profitabilitas dan kesehatan keuangan.

Dari sisi operasional, PGEO mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) dari wilayah kerja yang dikelola secara mandiri sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi produksi perseroan untuk periode Januari-September.

Realisasi produksi itu mencapai 108,22% dari target sebesar 3.801 GWh. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3.747 GWh, produksi listrik PGEO meningkat sekitar 9,86%.

Capaian tersebut menjadi salah satu modal perseroan untuk mengejar target peningkatan kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri (own operation) dari posisi saat ini sebesar 727 megawatt (MW) menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028. Selanjutnya, PGEO membidik kapasitas mencapai 1,8 GW pada 2033.

"Untuk mencapai target 1 GW pada 2028, PGEO memprioritaskan pengembangan 12 proyek dengan total kapasitas 320 MW. Lima proyek di antaranya, dengan kapasitas gabungan 105 MW, dipercepat dari jadwal awal yang semula ditargetkan beroperasi setelah 2028," ujarnya.

Sejumlah proyek yang tengah dikembangkan meliputi PLTP Hululais Unit 1 dan 2, PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4, serta PLTP Lahendong Unit 7 dan 8.

PLTP Hululais telah mengantongi Perjanjian Jual Beli Uap (Steam Sales Contract/SSC) dan dipersiapkan memasuki tahap Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC), dengan target operasi komersial pada 2028.