LABS Dorong Penguatan Ekosistem Diagnostik Molekular dalam Negeri
:
0
Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Dok. Liputan6.
EmitenNews.com - Aktivitas vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Jumat (4/9/2029) kembali meningkatkan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya terhadap penyakit saluran pernapasan. Kesadaran terhadap gangguan pernapasan juga mendorong kebutuhan terhadap layanan diagnostik yang dapat memberikan informasi mengenai penyebab infeksi secara lebih efisien dan efektif.
Tantangan bagi tenaga kesehatan adalah membedakan gejala yang disebabkan oleh iritasi partikel abu dengan gejala yang disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri.
Kondisi tersebut menjadikan deteksi patogen secara cepat dan akurat semakin relevan. Pemeriksaan molekular seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) dan rapid molecular Point-of-Care Testing (POCT) dapat membantu mengidentifikasi materi genetik patogen penyebab infeksi saluran pernapasan berdasarkan panel pemeriksaan yang tersedia.
Dalam keterangannya Senin (7/9/2026), Direktur Operasional PT UBC Medical Indonesia Tbk. (LABS), Dr. Yudha mengatakan, melihat perkembangan kebutuhan tersebut sebagai bagian dari peluang untuk memperkuat ekosistem diagnostik molekular di Indonesia.
Selain menjalankan kegiatan distribusi alat kesehatan dan solusi diagnostik, LABS melalui anak perusahaannya, PT Esora Medika Indonesia, sudah mengembangkan kerja sama dengan principal dan perusahaan teknologi diagnostik internasional dalam rangka menghadirkan dan mengembangkan teknologi PCR dan POCT yang dapat diproduksi dan dikembangkan di Indonesia.
Indonesia Memiliki Pasar Layanan Kesehatan yang Besar
Menurut Yudha, Indonesia memiliki pasar layanan kesehatan yang besar dengan kebutuhan diagnostik yang terus berkembang. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi LABS untuk tidak hanya memperluas distribusi teknologi diagnostik, tetapi juga mengembangkan peran dalam rantai nilai melalui kolaborasi teknologi, pengembangan produk, dan peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri.
Meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit pernapasan akibat berbagai faktor lingkungan, termasuk paparan abu vulkanik, menjadi salah satu gambaran pentingnya kesiapan infrastruktur diagnostik.
Bagi LABS, kebutuhan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat akses terhadap teknologi molekular sekaligus mendorong kolaborasi dan pengembangan teknologi diagnostik dalam negeri melalui PT Esora Medika Indonesia.
Seperti diketahui Jumat lalu, terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau. Setelah episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, aktivitas itu dinyatakan berakhir. Meski begitu gunung aktif di Provinsi Lampung itu, masih berada pada Level III (Siaga).
Related News
Kurangi Porsi, Sang Komut Kini Kuasai 75 Persen Saham Suparma (SPMA)
Tambah Portofolio, Komut Ini Investasi di Saham Estetika Tata (BEEF)
Sido Muncul (SIDO) Siap Bagikan Dividen Rp300 Miliar, Cek Jadwalnya
Kementerian PU Bersama PTPP Tangani 31 Titik Longsoran di Sumut
PTSN Raup Omzet Rp3,2T di Paruh Pertama 2026, PBV di Bawah 1 Kali
Presdir Emiten Sawit TAPG Divestasi 700 Ribu Saham, Total Rp1,33M





