EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin ditutup melemah. Itu menyusul lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di tengah rencana kementerian keuangan menaikkan jumlah pembelian kembali (buyback) obligasi hingga dua kali lipat lebih dari saat ini. Lalu, penguatan harga minyak mentah dipicu eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah.

Imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun terpantau naik ke level sebelum kementerian keuangan mengumumkan rencana tersebut yaitu 5 bps menjadi 4,704 persen, sedang untuk tenor 30 tahun naik 5 bps ke level 5,248 persen. Tensi geopolitik memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dan Bessent mengana Iran dengan sanksi ekonomi lebih berat.

Ancaman tersebut membuat harga minyak mentah jenis WTI melejit 3 persen menjadi USD86,83 per barel, sedang Brent melonjak lebih dari 2 persen ke level USD93,78 per barel. Koreksi bursa Wall Street diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Lompatan harga beberapa komoditas, dan aksi beli investor asing berpeluang menjadi sentimen positif indeks harga saham gabungan (IHSG).

Dengan begitu, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.440-6.380, dan resistance 6.560-6.625. Oleh sebab itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Unilever (UNVR), Vale (INCO), Kalbe (KLBF), Triputra (TAPG), Salim (SIMP), dan Harum (HRUM). (*)