Mari Cermati Prospek Bank BTN (BBTN) Mulai dari Penyaluran Kredit Hingga Prospek Sahamnya
:
0
EmitenNews.com—Perusahaan perbankan plat merah yang terkenal pada penyaluran kredit perumahaan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) beberapa tahun mendatang diproyeksikan akan terus mengalami pertumbuhan kredit.
Ekspansi bisnis BUMN ini seiring dengan perolehan dana segar hasil dari aksi korporasi melalui skema pelaksanaan penerbitan saham baru (rights issue) dengan target dana segar Rp 4,13 triliun. Sedangkan raihan laba bersih sampai September 2022 telah melampaui ekspektasi.
Merujuk data laporan keuangan BBTN kuartal III-2022 yang membukukan peningkatan laba bersih sebesar 50,1% dari Rp 1,51 triliun hingga kuartal III-2021 menjadi Rp 2,27 triliun. Begitu juga dengan PPOP melesat dari Rp 4,1 triliun menjadi Rp 5,54 triliun. Pendapatan bunga bersih meningkat 31,8% dari Rp 8,75 triliun menjadi Rp 11,54 triliun.
Pertumbuhan tersebut juga didukung atas peningkatan kredit mencapai 7,2% menjadi Rp 289,69 triliun sampai kuartal III-2022. CASA juga meningkat sebanyak 18,7% menjadi Rp 143,59 triliun. Kualitas aset juga terus membaik, seperti rasio LLC meningkat menjadi 150,5%, dibandingkan sampai Juni 2022 sekitar 125,4%, biaya kredit (CoC) juga turun dari 1,5% sampai Juni 2022 menjadi 1,2% sampai September 2022, dan LAR juga terus menunjukkan perbaikan dari kuartal ke kuartal.
Analis RHB Sekuritas Indonesia Ryan Santoso dan Andrey Wijaya mengatakan, masuknya dana segar baru dari pelaksanaan rights issue bakal mengerek capital adequacy ratio (CAR) BTN menjadi sekitar 19%-20%, dibandingkan catatan September 2022 sebesar 17,3%.
“Kami memperkirakan masuknya dana segara baru tersebut akan memperkuat kemampuan perseroan untuk mendongkrak pertumbuhan kredit ke depan. Apalagi pemerintah merencanakan peningkatan pemberian subsidi pembelian rumah bagi 200 ribu unit tahun 2023, dibandingkan target tahun 2022 sekitar 168 ribu,” terangnya dalam riset hari ini.
RHB Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap persetujuan penjualan aset-aset yang tidak produktif atau NPL secara bulk sales lewat skema aset swap atau tukar guling aset dengan surat berharga. Sebab, aksi ini diprediksi bisa membebaskan biaya provisi perseroan senilai Rp 700 miliar, menurunkan NPL berkisar 0,06%, dan LAR sebesar 0,18%.
“Perseroan telah mendapatkan persetujuan untuk menjual aset senilai Rp 1,1 triliun dengan target transaksi tuntas pada kuartal terakhir tahun ini. Penjualan aset dengan cara bulksales lewat skema aset swap dengan surat berharga,” terangnya.
Terkait pertumbuhan kredit BTN tahun ini, dia mengatakan, diproyeksikan mencapai angka 9%-10%. Target tersebut didasarkan pencapaian kredit perseroan yang tumbuh dengan baik sampai September 2022, yaitu pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi mencapai 8,5%. Begitu juga dengan KPR non subsidi melesat 20,4%.
Pada paparan kinerja kuartal III-2022, manajemen BBTN memaparkan sejumlah strategi untuk mendongkrak pertumbuhan bisnis. Yang paling utama adalah fokus pada pertumbuhan kredit yang berkualitas, menciptakan produk baru yang inovatif, mendiversifikasi target pasar ke segmen yang menjanjikan margin tinggi (high yield) serta memperbaiki struktur biaya dana dengan memperbanyak porsi dana murah (CASA).
Related News
CITA Bagi Dividen Jumbo, Dukung Hilirisasi Nasional
Emiten Prajogo (TPIA) Bagi Dividen USD50 Juta dari Laba 2025 USD1,09M
Ini Performa Saham Terdepak MSCI, Hari Ini Kompak Turun!
Bos Baru BEI Diumumkan 22 Juni Mendatang!
SUPR Makin Dekat dengan Rencana Delisting, Kapan Mulai?
Baru IPO Tapi Saham WBSA Dikenakan Status HSC, OJK Jelaskan Alasannya





