Pagi ini bursa regional menguat, IHSG fluktuatif melemah terbatas (6.555 – 6.630). IHSG mematahkan reli selama tiga hari berturut-turut menjelang libur panjang akhir pekan kemarin. Lima dari sembilan indeks sektoral IHSG ditutup melemah, dipimpin oleh sektor aneka industri (-0,94 persen) dan sektor keuangan (-0,48 persen). Saham-saham yang menjadi penekan utama IHSG antara lain BBCA (-1,05 persen), ASII (-1,19 persen), HMSP (-0,61 persen), dan TLKM (-0,74 persen). Asing kembali melanjutkan reli net sell sejak awal bulan Februari sebesar Rp 252,9 Miliar. Sementara itu, indeks saham lainnya di Asia Tenggara terpantau menguat dengan indeks FTSE Malay KLCI (+0,18 persen), indeks FTSE Straits Time Singapura (+1,19 persen), indeks SE Thailand (+0,21 persen), dan indeks PSEi Filipina (+0,17 persen). Di kawasan Asia lainnya, Indeks Nikkei 225 Jepang (+1,47 persen) berhasil membukukan rebound pada akhir perdagangan pekan kemarin, didorong saham teknologi dan perbankan, saat investor mengabaikan lonjakan yen serta mencermati data inflasi dan penjualan ritel AS. Bursa China dan Hong Kong tutup karena libur tahun baru Imlek. Di Amerika Serikat, Indeks Dow Jones Industrial Average (+0,08 persen) dan Indeks S&P 500 (+0,04 persen) masing-masing mencatatkan kenaikan tipis sedangkan indeks Nasdaq Composite (+0,22 persen) mencatatkan penurunan. Sempat turun karena kelanjutan kasus campur tangan Rusia pada pemilu Amerika Serikat (AS) pada tahun 2016, Indeks akhirnya masih berakhir di zona positif.
- BOSS Targetkan Pendapatan USD 60 Juta
- SUPR Berencana Buka Empat Gerai Baru
- BSDE Incar Peningkatan Pendapatan Berulang
- WSKT Tunggu Pembayaran Proyek LRT
- UNVR Berencana Cairkan Pinjaman Rp 3 Triliun
- KLBF Tingkatkan Penjualan Obat Resep
Related News
Black Week: Titik Balik Integritas vs. Krisis Kepercayaan pada Bursa
Apakah Lonjakan Laba EMTK Cerminan Fundamental atau Anomali?
Divergensi Valuasi COIN, Mengapa Pasar Menilai Berbeda dari Proyeksi?
Transformasi AZKO dan NEKA dalam Mengonversi Valuasi ACES di 2026
Perisai Astra vs. Badai MSCI, Masihkah Risiko Likuiditas HEAL Relevan?
Hilirisasi AMMN Transformasi Strategis atau Risiko Sistemik Nyata?





