Menanti Tantangan Pasar Modal Indonesia di 2026
Investor menatap layar transaksi perdagangan saham.
EmitenNews.com - Kabar gembira! Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin kokoh 80,25 poin atau 0,94% menuju level 8.602,13 per penutupan perdagangan Rabu, 26 November 2025. Inilah rekor tertinggi sepanjang masa (all time high).
“Bagaimana tantangan pasar modal 2026?”
Masih lekat dalam ingatan kita bahwa pasar modal pernah gonjang-ganjing pada pertengahan Maret 2025. Puncaknya, Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan untuk sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pada Selasa, 18 Maret 2025 selama 30 menit ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 5%. Namun, kini pasar modal sudah kembali bergairah untuk menatap masa depan yang lebih cerah.
Bagaimana perkembangan 10 saham dengan kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar per 21 November 2025? Apa itu kapitalisasi pasar? Kapitalisasi pasar menunjukkan nilai suatu perusahaan dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar.
Inilah rinciannya, PT Barito Renewables Energy (BREN) merajai dengan market cap Rp1.318 triliun. Posisi tersebut disusul oleh Bank Central Asia (BBCA) Rp1.025 triliun, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Rp771 triliun, Chandra Asri Petrochemical (TPIA) Rp629 triliun dan DC Indonesia (DCII) Rp621 triliun.
Kemudian, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Rp594 triliun, Bayan Resources (BYAN) Rp592 triliun, Amman Mineral Internasional (AMMN) Rp470 triliun, Bank Mandiri (BMRI) Rp457 triliun dan Telkom Indonesia (TLKM) Rp347 triliun.
Harap catat bahwa telah terjadi pergeseran dalam top 10 market cap. BBCA yang selama ini menjadi pemimpin kini harus rela digantikan oleh BREN. Hal itu menyiratkan bahwa pasar modal semakin bergairah.
Lantas, apa saja tantangan pasar modal pada 2026?
Pertama, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias BPI Danantara merencanakan untuk berinvestasi melalui pasar modal Indonesia mulai Januari 2026. Rencana itu patut disambut hangat.
Danantara adalah super holding BUMN yang mirip sovereign wealth funds (SWF) seperti Temasek, Singapura. Pembentukan Danantara berdasarkan pada Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga Atas UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Kini semua BUMN beserta anak dan cucu mereka berada di bawah komando Danantara. Dengan total aset yang mencapai sekitar Rp 16,5 triliun, Danantara akan menjadi motor utama dalam menggerakkan roda bisnis pasar modal.
Namun, sangat diharapkan Danantara terus menerus meningkatkan tata kelola (good corporate governance/GCG) yang selama ini menjadi sorotan tajam banyak kalangan bisnis termasuk investor pasar modal. Prinsip-prinsip GCG yang yang meliputi transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independen dan wajar harus menjadi ujung tombak dalam melakukan investasi.
Kedua, amat diharapkan kehadiran Danantara akan meningkatkan peran serta investor dalam negeri. Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor di pasar modal naik 18,01% menjadi 12,17 juta orang pada 2023 dan 22,22% menjadi 14,88 juta orang pada 2024.
Kemudian, jumlah investor di pasar modal naik 2,58% menjadi 16,99 juta orang pada Juni 2025 dan 2,76% menjadi 17,47 juta orang pada Juli 2025 serta 3,17% menjadi 18,02 juta orang pada Agustus 2025.
Eloknya, total investor pasar modal yang mencapai 18,02 juta orang ternyata didominasi oleh investor individu 99,71% (17,97 juta orang). Sebaliknya, investor institusi 0,29% (51,97 ribu orang) per Agustus 2025.
Investor muda yang terdiri dari usia sampai atau di bawah 30 tahun menjadi pemimpin pasar (market leader) sebesar 54,12% dan usia 31-40 tahun menyusul 24,89%. Investor usia 41-50 tahun mencapai 12,31%, usia 51-60 tahun: 5,74% dan paling kecil usia di atas 60 tahun: 2,94%.
Data tersebut menegaskan bahwa investor usia muda akan lebih menggairahkan pasar modal ke depan. Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika generasi generasi Y (lahir 1981-1996) dan Z (1997-2012) kini menjadi target market hampir semua jenis bisnis. Bahkan bidang politik pun menetapkan generasi tersebut menjadi target market dalam memenangi pertarungan dalam pemilu dan pilkada.
Related News
Lakoni Pembekuan! Pengendali Buang 1,14 Miliar Saham MORA
Pentolan AMMN Divestasi Jutaan Lembar Harga Pasar
Oversubscribed, Investor Serbu Surat Utang BBTN
Sawit Sumbermas (SSMS) Ungkap Transaksi Baru
Laba Bersih Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Per Q3-2025 Naik 819%
AUM Tembus Rp70 Triliun, Mandiri Siapkan ETF Emas Syariah





