Mengapa Pendapatan MDKA Turun Tapi Laba Melompat dan Saham Meroket?
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Dok. StockWatch
EmitenNews.com - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengawali tahun 2026 dengan kejutan fundamental yang menantang logika pasar tradisional melalui sebuah narasi paradoks yang signifikan. Meskipun perusahaan mencatatkan penyusutan pendapatan sebesar 22,8 persen menjadi 1,28 miliar dolar AS pada kuartal ketiga 2025, emiten ini justru berhasil mencetak lonjakan laba kotor sebesar 40 persen.
Dinamika ini didorong oleh pivot strategis dari perdagangan nikel rendah margin menuju komoditas emas yang jauh lebih menguntungkan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, di balik resiliensi harga sahamnya yang melonjak 10,37 persen dalam sepekan terakhir, terdapat struktur modal kompleks dan beban bunga yang masih membayangi entitas induk, menjadikan MDKA subjek riset yang krusial untuk dipahami secara saksama.
Paradoks Pendapatan dan Strategi Pembersihan Portofolio
Anomali operasional MDKA terlihat jelas pada pergeseran fokus komoditas yang dilakukan oleh jajaran manajemen. Perusahaan secara sengaja memangkas volume ekspor nikel ke mitra lama seperti CNGR dan Eternal Tsingshan yang selama ini hanya memberikan margin atau selisih keuntungan yang tipis, untuk kemudian mengalokasikan sumber daya pada lini produksi emas.
Melalui kemitraan strategis dengan HSBC, penjualan emas melonjak signifikan hingga menyentuh angka 293 juta dolar AS, yang secara langsung mengekspansi margin laba kotor menjadi 166 juta dolar AS. Penjelasan di balik fenomena ini adalah preferensi terhadap kualitas pendapatan daripada kuantitas, di mana setiap dolar pendapatan yang dihasilkan kini memiliki bobot keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Misteri Laba Konsolidasi dan Kepentingan Non-Pengendali
Satu hal yang sering mengecoh investor ritel adalah perbedaan antara laba konsolidasi dan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk. Secara konsolidasi, MDKA mencetak laba 14,2 juta dolar AS, namun pemegang saham holding atau perusahaan induk justru masih menanggung rugi bersih sebesar 34,7 juta dolar AS.
Kondisi ini disebut sebagai paradoks Kepentingan Non-Pengendali (KNP) atau Non-Controlling Interest (NCI), di mana keuntungan operasional sebagian besar mengalir ke anak perusahaan seperti PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), sementara beban utang dan biaya eksplorasi tetap bertumpuk di level induk. Hal ini menciptakan ilusi kesehatan finansial bagi mereka yang hanya melihat angka keuntungan total tanpa membedah distribusi kepemilikan aset secara detail.
Gravitasi Utang dan Struktur Modal yang Kompleks
Struktur keuangan MDKA saat ini menghadapi apa yang disebut sebagai gravitasi utang akibat leverage atau rasio utang yang sangat tinggi. Dengan total pinjaman yang mencapai 1,9 miliar dolar AS dalam bentuk kredit bank, obligasi, dan sukuk, beban bunga bersih perusahaan menyedot hampir 75 persen dari laba usaha.
Lebih lanjut, anomali terlihat pada ekuitas perusahaan di mana dari total 2,99 miliar dolar AS, hanya 28 persen yang menjadi hak langsung pemegang saham MDKA, sementara sisanya dikuasai oleh KNP. Ketergantungan pada struktur modal yang berlapis ini mengharuskan investor untuk memantau proses deleveraging atau pengurangan utang secara berkala agar arus kas perusahaan tidak terus tergerus oleh tingginya biaya pendanaan di level induk.
Evolusi Harga Saham dan Resiliensi di Tengah Badai
Sejak melakukan Penawaran Umum Perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2015, MDKA telah melalui berbagai fase transformasi harga yang signifikan. Jika disesuaikan dengan aksi pemecahan nilai saham atau stock split satu banding lima pada tahun 2019, harga awal MDKA berada pada kisaran 400 rupiah per saham. Pada pekan ketiga Januari 2026, MDKA membuktikan resiliensinya dengan menjadi pemimpin penguatan di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Di saat indeks secara keseluruhan sedang mengalami tekanan jual, saham MDKA justru menguat 10,37 persen, mencerminkan apresiasi pasar terhadap keberhasilan perusahaan bertransformasi menjadi produsen emas dan nikel bernilai tinggi yang lebih efisien di tengah volatilitas pasar.
Katalis Makro dan Harapan pada Proyek Strategis
Optimisme pasar terhadap MDKA juga didorong oleh faktor makroekonomi global, terutama posisi emas sebagai aset aman atau safe haven saat terjadi gejolak geopolitik. Kenaikan harga emas dunia di awal tahun 2026 menjadi katalisator utama yang mempertebal margin operasional perusahaan secara instan.
Di sisi lain, sinyal stabilisasi suku bunga global memberikan ruang napas bagi valuasi perusahaan yang sangat sensitif terhadap beban utang jangka panjang. Secara mikro, proyek strategis seperti Pani Gold Project menjadi "kartu as" yang dinantikan pasar untuk menjadi motor utama pertumbuhan laba di masa depan. Optimalisasi pada lini bisnis nikel melalui MBMA juga mulai menunjukkan hasil yang positif bagi efisiensi konsolidasi grup secara keseluruhan.
Related News
Apakah INET Adalah Jawaban Atas Dahaga Infrastruktur Digital Bangsa?
Mampukah Rekor IHSG 9.174 Bertahan dari Tekanan Gravitasi Rupiah?
Bukan Sekadar Yogurt, Kanzler Jadi Lokomotif Utama Pertumbuhan CMRY
Masihkah Telkom Indonesia Menjadi Safe Haven di Era Danantara?
Dilema Valuasi NEST: Menguji Resiliensi Model Bisnis Tanpa Utang
Akankah Narasi Besar PGEO Berlabuh di Realitas Eksekusi Operasional?





