EmitenNews.com - Mayoritas indeks Wall Street ditutup melemah tipis pada perdagangan akhir 2025. Sepanjang 2025, pasar saham Amerika Serikat (AS) diwarnai ketidakpastian kebijakan tarif Presiden Trump, dan euforia terhadap saham berbasis kecerdasan buatan (AI). 

Secara tahunan, mayoritas indeks mampu mencetak kinerja solid. Indeks S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq membukukan kenaikan double digit. Pelemahan pasar beberapa hari terakhir sempat menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian investor. Pasalnya, lima hari perdagangan terakhir 2025, dan dua hari pertama tahun depan 2026 dikenal sebagai periode Santa Claus Rally.

Periode itu, umumnya memberi dorongan terakhir bagi saham menjelang akhir tahun. Ke depan, arah kebijakan moneter The Fed diperkirakan menjadi penentu utama sentimen pasar global pada 2026. Itu menyusul data ekonomi terbaru, dan ekspektasi akan kepemimpinan bank sentral lebih dovish, mendorong pasar memperhitungkan pemangkasan suku bunga lanjutan. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak dalam fase minor konsolidasi, dan berpeluang untuk mengkonfirmasi pola bullish flag sebagai indikasi sinyal bullish continuation. Namun, tetap waspadai kecenderungan pelaku pasar masih bersikap wait & see, aksi net sell asing, dan koreksi beberapa harga komoditas global diperkirakan dapat menjadi katalis negatif. 

So, indeks diramal bergerak bervareasi cenderung menguat. Sepanjang perdagangan hari ini, Jumat, 2 Januari 2026, indeks akan menjelajahi area support 8.567-8.478, dan resistance 8.729-8.814. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan investor menjala saham ASII, UNVR, INDY, INCO, PGAS, dan MYOR. (*)