Meski Ada Ancaman Resesi Global, Pelaku Usaha Masih Optimistis Terhadap Ekonomi 2023
:
0
EmitenNews.com—Pelaku usaha masih optimistis terhadap perekonomian Indonesia pada 2023, meskipun adanya ancaman resesi global. “Sebagai pelaku usaha, saya sering ditanya pendapat mengenai kondisi ekonomi terkini. Kami dari pebisnis optimistis tetapi juga cautious terhadap dinamika yang berkembang,” ujar CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani, dalam acara The Indonesia 2023 Summit yang diinisiasi oleh Bank Danamon, Adira Finance, dan MUFG Bank, Ltd, pada pekan lalu.
Menurutnya, kalangan pelaku usaha menilai bisnis di tahun 2023 akan melambat dibandingkan 2022. Tapi, itu tidak berarti akan mengarah pada resesi ekonomi. “Di tahun 2023, pertumbuhan industri manufaktur diprediksi masih akan positif namun lebih rendah dari apa yang bisa dicapai di tahun 2022,” ujarnya.
Dia merinci hingga bulan ini, kegiatan bisnis di Indonesia masih berjalan baik. Kepercayaan pasar masih tinggi dan fundamental makro ekonomi juga terlihat bagus dan lebih baik dibandingkan dua krisis yang pernah dilewati sebelumnya. “Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup besar dan mendapat benefit dari kenaikan harga komoditas di pasar global,” jelasnya.
Selain itu, dia juga menyoroti bahwa Indonesia siap menghadapi ancaman resesi global 2023 karena memiliki jaringan pengaman sosial dan shock absorption policy sehingga bisa menjaga tingkat permintaan dan tingkat daya beli. “Kami berharap kebijakan subsidi ini masih diterapkan pada tahun depan,” jelasnya.
Shinta menambahkan pengusaha akan mengantisipasi kenaikan upah tenaga kerja, terutama di industri padat karya. Industri alas kaki dan tekstil, adalah salah dua yang sudah terdampak kenaikan upah buruh.
“Dari tantangan-tantangan yang ada, pelaku usaha berharap kebijakan restrukturisasi kredit diperpanjang. Sangat sulit menjalankan usaha tanpa dukungan pendanaan dari pinjaman dari perbankan,” ujar Shinta.
Pada event yang sama, Staf Ahli Menteri Keuangan Masyita Criystallin mengatakan ada perbedaan besar antara krisis tahun 2008 dan tahun 2013 dengan krisis yang saat ini berlangsung. Krisis yang terjadi saat ini memberikan banyak tekanan yang langsung mengarah ke nilai tukar. “Turki contohnya, tingkat inflasinya menembus 84% dan year to date mata uangnya sudah melemah 30% terhadap dollar AS,” ujarnya.
Masyita menegaskan kondisi Indonesia saat ini cukup baik dibandingkan negara-negara peers group. Nilai tukar rupiah masih cukup baik dan Indonesia mendapat kompensasi yang signifikan dari surplus neraca perdagangan. “Dibandingkan negara-negara berkembang lain, capital outflow di Indonesia sangat rendah,” jelasnya.
Dia menambahkan fundamental ekonomi Indonesia saat ini lebih baik Dibandingkan 2008 dan 2013. Pada masa dahulu, Indonesia memang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Namun, hal itu mesti ditebus dengan defisit neraca perdagangan dan defisit neraca transaksi berjalan.
“Sekarang, Indonesia tidak lagi mengalami defisit karena mampu mencetak surplus di neraca perdagangan. Salah satu faktor pentingnya adalah inisiatif untuk memulai hilirisasi industri minerba sejak beberapa tahun lalu telah membuahkan hasil,” jelasnya.
Related News
Rupiah Makin Loyo, Hampir Sentuh Rp17.400
Tanggapi Presiden, Bagi UMKM Kemudahan Akses Pembiayaan Lebih Utama
Kunjungan Turis China Meningkat, Masih di Bawah Malaysia dan Australia
Tunggu Hasil Audit Proses Restitusi dari BPKP, Purbaya Kejar WP Nakal
Kabar Baik, SKK Migas Temukan Potensi 13 Sumur Migas Baru di Kutai
Bagai Langit dan Bumi, Outlook Vietnam dan RI Berdasarkan Moody's





