EmitenNews.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini menyampaikan proyeksi yang mencuri perhatian banyak pihak. Dalam forum Sarasehan 100 Ekonom yang dihelat pada Selasa, 28 Oktober 2025, Ia dengan nada optimis menyebut bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menembus level 9.000 pada akhir tahun ini, dan bahkan bisa mencapai 32.000 dalam satu dekade ke depan.

Purbaya mengemukakan, proyeksi tersebut bukanlah sekadar firasat atau optimisme kosong. Ia menuturkan prakiraannya berdasarkan pola historis pasar saham global dan nasional, serta perhitungan ekonomi yang bisa dijelaskan secara matematis. Ia mengamati bahwa dalam setiap siklus ekonomi, pasar saham biasanya naik 4 hingga 5 kali lipat dari titik terendah ke titik tertinggi dan pola itu, menurutnya, konsisten secara historis.

Tentunya pernyataan ini menyuntikkan semangat optimisme. Namun di sisi lain, target fantastis tersebut menimbulkan diskusi serius—apakah target itu realistis, dan apa implikasinya bagi ekonomi Indonesia secara keseluruhan?

Dalam pandangan Menteri Keuangan, kenaikan IHSG mencerminkan kepercayaan investor arah kebijakan pemerintah. Ia menilai bahwa meskipun masih ada fenomena ‘saham gorengan’ di pasar modal, namun saham-saham dengan fundamental kuat tetap akan menjadi penggerak utama indeks.

Optimisme ini tentu tidak berdiri sendiri. Ini berangkat dari keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih sangat solid di mana pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) stabil di kisaran 5-5,5%, inflasi terkendali, dan cadangan devisa tetap tinggi. Selain itu, reformasi struktural dan stabilitas politik dianggap sebagai faktor penopang kepercayaan investor jangka panjang.

Dalam pandangan makroekonomi, pernyataan seperti ini berfungsi sebagai strategi komunikasi fiskal. Pemerintah tidak hanya mengelola angka-angka keuangan negara, tetapi juga mengelola ekspektasi publik dan investor. Ketika Menteri Keuangan berbicara dengan nada optimis, pasar akan menafsirkan bahwa pemerintah yakin terhadap prospek ekonomi dan memiliki strategi untuk mencapainya.

Jika melihat ke belakang, klaim Menteri Keuangan bahwa pasar saham bisa naik 4-5 kali lipat dalam satu siklus memang memiliki landasan empiris. Setelah krisis 1998, IHSG sempat jatuh ke kisaran 300-an poin. Namun dalam waktu 10 tahun, indeks naik hingga 2.700-an, artinya hampir 9 kali lipat. Begitupun pada tahun 2008, ketika terjadi krisis global, IHSG kembali melesat hingga mencapai 6.600-an pada 2021, naik lebih dari 4 kali lipat dari titik terendah pada tahun 2008.

Artinya, jika pola historis tersebut berulang, target IHSG di 32.000 bukan hal yang mustahil secara matematis dalam periode satu dekade ke depan.

Namun, tentu saja, kondisi ekonomi global, stabilitas politik, serta arah kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi faktor penentu. Purbaya, yang dikenal sebagai ekonom dengan pengalaman panjang di dunia investasi sejak awal 2000-an, menilai bahwa behavioral system pasar tidak banyak berubah. Menurutnya, perilaku manusia dalam berinvestasi, baik di masa lalu maupun kini, tetap dipengaruhi oleh psikologi, optimisme, dan ekspektasi terhadap masa depan.

Meski optimisme adalah hal positif, pernyataan IHSG bisa tembus 9.000 pada akhir tahun dan target jangka panjang mencapai 32.000 tentu menimbulkan ekspektasi tinggi. Euforia pasar yang berlebihan bisa menjadi pedang bermata dua.