EmitenNews.com - Pasar saham Asia bergerak melemah signifikan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Indeks utama bursa Jepang dan Korea Selatan merosot tertekan oleh melonjaknya harga minyak dunia serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Trading Economics mencatat indeks Nikkei 225 Jepang turun 1 persen hingga berada di bawah level 64.600, sementara Indeks Topix melorot 0,65 persen ke posisi 4.020. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi bursa Jepang selama tiga sesi berturut-turut.

Di Korea Selatan, indeks acuan KOSPI anjlok hampir 2 persen ke kisaran level 6.920 pada Kamis. Pergerakan ini membalikkan kenaikan dari sesi sebelumnya seiring tingginya harga minyak dan penguatan yield obligasi Paman Sam.

Pelemahan pasar saham Asia dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent yang melampaui USD101 per barel akibat meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran. Lonjakan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global serta memperkuat ekspektasi pengetatan suku bunga acuan.

Kondisi tersebut diperberat oleh kenaikan yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun ke level 4,86 persen—tertinggi sejak November 2023—setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana buyback utang jangka panjang hingga USD6 miliar yang dinilai belum memenuhi ekspektasi pasar.

Di Jepang, penguatan yen ke level tertinggi dalam hampir tujuh bulan turut menekan saham sektor teknologi dan konsumen, seperti Furukawa Electric (-4,9%), Fujikura (-4,4%), Nintendo (-3,8%), Ibiden Co (-3,1%), dan Fast Retailing (-1,5%).

Sementara itu, penurunan di bursa Korea Selatan diseret oleh jajaran saham berkapitalisasi besar, di antaranya Doosan Energy (-4,1%), SK Square (-3,4%), LG Energy Solution (-2,4%), SK Hynix (-2,2%), Samsung Electronics (-2,1%), dan Hyundai Motor (-1,3%).

Korea Selatan dan Prancis sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang AI dan semikonduktor, termasuk penelitian dan investasi bersama, yang menawarkan dukungan jangka panjang bagi sektor teknologi Korea.

Pelemahan tajam bursa acuan Asia ini memberi sinyal negatif bagi pasar keuangan Indonesia. Kombinasi tekanan lonjakan harga minyak global dan rontoknya bursa regional berisiko menahan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta memicu aksi lepas aset berisiko oleh investor di pasar modal domestik.(*)