EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada Kamis (10/9/2026). Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar dan investor global bersiap menantikan rilis data penting inflasi yang berpotensi memengaruhi keputusan arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) mendatang.

Berdasarkan data Trading Economics, indeks harga produsen (PPI) periode Agustus dijadwalkan rilis pada Kamis, lalu disusul oleh laporan inflasi konsumen (CPI) pada Jumat. Selain itu, pasar mencermati rilis data klaim pengangguran mingguan, penjualan rumah yang sudah ada, serta laporan keuangan korporasi seperti Oracle, Adobe, Copart, Macy's, dan Restoration Hardware.

Pada perdagangan reguler Rabu kemarin, indeks Dow Jones tercatat melemah 0,77 persen, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing terkoreksi sebesar 0,48 persen dan 0,64 persen.

Pelemahan bursa saham AS tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran inflasi serta memperkuat proyeksi kenaikan suku bunga acuan.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS bergerak menguat. Tren kenaikan yield ini terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) utang jangka panjang dengan nilai hingga USD6 miliar.

Rencana nilai buyback tersebut direspon kurang memuaskan oleh sebagian investor pasar modal yang sebelumnya mengharapkan nominal yang lebih besar.

Pergerakan pasar saham berjangka AS serta penantian data inflasi global ini memberikan dampak langsung bagi pasar keuangan Indonesia. Ketidakpastian arah suku bunga AS dan pergerakan yield obligasi AS berisiko memicu volatilitas pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta pergerakan nilai tukar rupiah di bursa domestik.(*)