EmitenNews.com - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) dijadwalkan merilis pengumuman resmi mengenai besaran pasti pembelian kembali (buyback) obligasi Treasury jangka panjang tenor 10 hingga 20 tahun pada Rabu pukul 11.00 waktu Washington.

Pengumuman ini merinci janji penambahan nilai buyback yang sebelumnya dinyatakan akan naik "setidaknya dua kali lipat" dari nilai awal USD2 miliar pada 19 Agustus lalu, dengan eksekusi transaksi yang dijadwalkan berjalan pada Kamis (10/9/2026).

Menurut laporan BigGo Finance pasar memperkirakan nilai buyback tersebut akan menembus di atas USD4 miliar. Lembaga keuangan Morgan Stanley mengkalkulasi batas praktis buyback dapat mencapai USD10 miliar, sementara Wrightson ICAP menilai kisaran USD5 miliar hingga USD6 miliar sebagai titik awal yang rasional.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa langkah ini diambil guna meredakan volatilitas pasar obligasi jangka panjang yang ia ibaratkan seperti "demam". Ia membantah narasi pasar bahwa AS tidak mampu membayar utangnya, sekaligus menegaskan bahwa kebijakan ini bukan bagian dari pelonggaran kuantitatif (quantitative easing).

"Pasar tidak pernah berada dalam keseimbangan sepanjang waktu. Pekerjaan saya adalah mendorong pasar kembali ke keseimbangan, tetapi saya tidak percaya bahwa Departemen Keuangan dapat mengubah harga keseimbangan aset itu sendiri," ujar Bessent saat berbicara di Washington.

Bessent membandingkan pendekatan kebijakannya ini dengan strategi historis Operasi Twist milik bank sentral AS, The Federal Reserve. Pengumuman nilai buyback ini dinilai sangat krusial karena dirilis hanya beberapa jam sebelum lelang obligasi tenor 10 tahun dan disusul lelang obligasi 30 tahun pada Kamis.

Jika nilai buyback terealisasi melampaui ekspektasi, imbal hasil (yield) obligasi jangka panjang berpotensi turun dalam jangka pendek. Sebaliknya, jika nilai buyback tertahan di kisaran USD4 miliar, tekanan jual diperkirakan bakal meningkat mengingat yield obligasi Treasury 10 tahun saat ini mendekati level tertinggi tahun 2023.

Pergerakan yield obligasi Treasury AS ini memiliki dampak langsung terhadap stabilitas pasar domestik. Lonjakan yield obligasi AS berisiko memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.(*)