EmitenNews.com -PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) menargetkan pertumbuhan pendapatan untuk Tahun Buku 2023 sebesar 5 persen (year-on-year) menjadi Rp2,44 triliun.

 

Proyeksi kinerja keuangan CENT di 2023 ini dikutip dari materi Public Expose perseroan yang dijadwalkan akan digelar di Jakarta pada Jumat, 26 Mei 2023.

 

"Perseroan menargetkan peningkatan pendapatan sebesar 5 persen, yaitu menjadi sebesar Rp2.436 miliar pada 2023," demikian disampaikan manajemen CENT.

 

Keterangan resmi CENT menyebutkan bahwa pada tahun ini perseroan akan berfokus untuk mempertahankan momentum pertumbuhan dengan memperkuat penyewaan menara, baik dengan pembangunan baru maupun kolokasi, serta memperluas bisnis fiber optik.

 

Seperti diketahui, pada Tahun Buku 2022, CENT membukukan pendapatan sebesar Rp2,32 triliun atau melonjak 32,57 persen dibanding capaian di 2021 yang senilai Rp1,75 triliun.

 

Sedangkan, pada Tahun Buku 2022, perseroan masih mencatatkan rugi tahun berjalan setelah efek penyesuaian rugi entitas bergantung, yaitu mencapai Rp2,15 triliun. Kerugian ini jauh lebih besar dibanding periode yang sama di 2021 senilai Rp314,23 miliar.

 

Per 31 Desember 2022, total liabilitas CENT tercatat membengkak 16,63 persen (y-o-y) menjadi Rp20,69 triliun. Hingga akhir Desember 2022, perseroan mencatatkan defisiensi modal (ekuitas negatif) sebesar Rp592,43 miliar, padahal di akhir Desember 2021 tercatat positif sebesar Rp2,06 triliun.

 

Sementara itu, per 31 Maret 2023, pendapatan CENT tercatat sebesar Rp601,27 miliar atau bertumbuh 5,8 persen (y-o-y). Menariknya, hingga akhir Kuartal I-2023 perseroan sudah membukukan laba komprehensif periode berjalan setelah efek penyesuaian proforma, yakni senilai Rp127,16 miliar. Capaian ini berbanding terbalik dengan posisi per Kuartal I-2022 yang masih rugi Rp542,76 miliar.

 

Hingga akhir Kuartal I-2023, total liabilitas CENT sebesar Rp20,7 triliun atau meningkat tipis dibanding per akhir Desember 2022 yang senilai Rp20,69 triliun. Per 31 Maret 2023, perseroan mencatatkan ekuitas negatif sebesar Rp465,26 miliar atau mengalami penurunan dibanding per 31 Desember 2022 yang mencapai Rp592,43 miliar.