IDXINDUST

 0.00%

IDXINFRA

 0.00%

IDXCYCLIC

 0.00%

MNC36

 0.00%

IDXSMC-LIQ

 0.00%

IDXHEALTH

 0.00%

IDXTRANS

 0.00%

IDXENERGY

 0.00%

IDXMESBUMN

 0.00%

IDXQ30

 0.00%

IDXFINANCE

 0.00%

I-GRADE

 0.00%

INFOBANK15

 0.00%

COMPOSITE

 0.00%

IDXTECHNO

 0.00%

IDXV30

 0.00%

ESGQKEHATI

 0.00%

IDXNONCYC

 0.00%

Investor33

 0.00%

IDXSMC-COM

 0.00%

IDXBASIC

 0.00%

IDXESGL

 0.00%

DBX

 0.00%

IDX30

 0.00%

IDXG30

 0.00%

ESGSKEHATI

 0.00%

KOMPAS100

 0.00%

PEFINDO25

 0.00%

BISNIS-27

 0.00%

ISSI

 0.00%

MBX

 0.00%

IDXPROPERT

 0.00%

LQ45

 0.00%

IDXBUMN20

 0.00%

IDXHIDIV20

 0.00%

JII

 0.00%

IDX80

 0.00%

JII70

 0.00%

SRI-KEHATI

 0.00%

SMinfra18

 0.00%

KB Bukopin
victoria sekuritas

Neraca Perdagangan Indonesia Juli 2022 Catat Surplus USD4,23 Miliar

15/08/2022, 14:20 WIB

Neraca Perdagangan Indonesia Juli 2022 Catat Surplus USD4,23 Miliar

EmitenNews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Juli 2022 mengalami surplus sebesar USD4,23 miliar. Surplus terutama berasal dari sektor nonmigas yang tercatat sebesar USD7,31 miliar, namun tereduksi oleh defisit sektor migas yang mencapai senilai USD3,08 miliar.


Keterangan resmi BPS Senin (15/8) ini mengungkapkan nilai ekspor Indonesia Juli 2022 mencapai USD25,57 miliar atau turun 2,20 persen dibanding ekspor Juni 2022. Dibanding Juli 2021 nilai ekspor naik sebesar 32,03 persen.


Sedangkan ekspor nonmigas Juli 2022 mencapai USD24,20 miliar, turun 1,64 persen dibanding Juni 2022, dan naik 31,58 persen dibanding ekspor nonmigas Juli 2021.


Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Juli 2022 mencapai USD166,70 miliar atau naik 36,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. Sementara ekspor nonmigas mencapai USD157,55 miliar atau naik 36,45 persen.


Penurunan terbesar ekspor nonmigas Juli 2022 terhadap Juni 2022 terjadi pada komoditas besi dan baja sebesar USD257,4 juta (11,51 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar USD354,2 juta (6,86 persen).


Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Juli 2022 naik 24,62 persen dibanding periode yang sama tahun 2021, demikian juga ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 14,93 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 104,59 persen.


Ekspor nonmigas Juli 2022 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu USD5,03 miliar, disusul Amerika Serikat USD2,51 miliar dan India USD2,26 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 40,50 persen. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar USD4,68 miliar dan USD1,88 miliar.


Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Juli 2022 berasal dari Jawa Barat dengan nilai USD22,53 miliar (13,52 persen), diikuti Kalimantan Timur USD19,67 miliar (11,80 persen) dan Jawa Timur USD14,86 miliar (8,92 persen).


Sementara itu dari sisi impor, nilai impor Indonesia selama periode Juli 2022 mencapai USD21,35 miliar, naik 1,64 persen dibandingkan Juni 2022 atau naik 39,86 persen dibandingkan Juli 2021.


Impor migas Juli 2022 senilai USD4,46 miliar, naik 21,30 persen dibandingkan Juni 2022 atau naik 148,38 persen dibandingkan Juli 2021.
Impor nonmigas Juli 2022 senilai USD16,89 miliar, turun 2,53 persen dibandingkan Juni 2022 atau naik 25,41 persen dibandingkan Juli 2021.


Peningkatan impor golongan barang nonmigas terbesar Juli 2022 dibandingkan Juni 2022 adalah logam mulia dan perhiasan/permata USD193,7 juta (62,51 persen). Sedangkan penurunan terbesar adalah mesin/peralatan mekanis dan bagiannya USD175,6 juta (6,28 persen).


Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Juli 2022 adalah Tiongkok USD38,02 miliar (33,47 persen), Jepang USD9,85 miliar (8,67 persen), dan Thailand USD6,78 miliar (5,97 persen). Impor nonmigas dari ASEAN USD19,69 miliar (17,33 persen) dan Uni Eropa USD6,32 miliar (5,56 persen).


Menurut golongan penggunaan barang, nilai impor Januari–Juli 2022 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada barang konsumsi USD734,3 juta (7,05 persen), bahan baku/penolong USD26.153,7 juta (32,43 persen), dan barang modal USD4.339,1 juta (28,48 persen).(fj)



Author: F J