EmitenNews.com - Mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga hampir 26% di kuartal ketiga 2026 menjadi capaian yang cukup mencolok bagi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Postur keuangan ini tampak semakin tangguh dengan melimpahnya likuiditas kas tanpa adanya beban utang bank sepeser pun. 

Meski demikian, di balik angka profitabilitas yang terlihat prima, laporan keuangan perseroan juga mengungkap sebuah tantangan finansial yang cukup krusial. UNVR tengah berhadapan dengan proses sengketa tagihan pajak bernilai triliunan rupiah, sebuah fakta yang membuat investor harus membaca kondisi kesehatan perusahaan secara lebih menyeluruh.

UNVR Bebas Utang Tapi Terkepung Sengketa Pajak

PT Unilever Indonesia Tbk atau UNVR mencatatkan anomali keuangan yang sangat menarik pada kuartal ketiga tahun 2026. Di satu sisi, perseroan membuktikan kesehatan neracanya dengan melunasi seluruh pinjaman bank, sehingga posisi utang bank berbunga mereka mutlak berada di angka nol. 

Liabilitas keuangan yang tersisa murni hanya berasal dari kewajiban sewa sebesar Rp561,50 miliar. Kondisi super likuid ini membuat beban keuangan mereka anjlok drastis hingga 77% tersisa hanya Rp23,13 miliar, dengan kas dan deposito menumpuk nyaris mencapai Rp2,9 triliun. 

Namun di sisi lain, manajemen saat ini harus berjuang keras di pengadilan pajak untuk melawan rentetan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau SKPKB dari Direktorat Jenderal Pajak yang nilainya triliunan rupiah. Sengketa tajam ini mencakup sisa tagihan tahun 2018 sebesar Rp508,39 miliar, tagihan 2019 senilai Rp228,68 miliar, serta ketetapan pajak 2020 yang sengketa pokoknya menembus angka Rp642 miliar.

Meski terkepung sengketa pajak masa lalu, laba bersih perseroan secara mengejutkan tetap melesat 25,96% secara tahunan menjadi Rp4,2 triliun. Tentu saja, lonjakan drastis ini bukan murni dari jualan produk harian semata. 

Kenaikan laba tersebut sangat tertolong oleh masuknya dana segar dari penjualan unit bisnis teh merek SariWangi senilai Rp1,5 triliun pada awal Maret 2026. Dari transaksi ini, UNVR membukukan keuntungan bersih sekali waktu (one-off) setelah pajak sebesar Rp870,27 miliar. 

Jika kita mengesampingkan efek transaksi pelepasan merek tersebut dan murni melihat operasi yang masih berjalan, laba bersih UNVR sebenarnya tetap tumbuh sehat di kisaran 10,57% menjadi Rp3,31 triliun.

Pergeseran Mesin Uang Kebutuhan Rumah Tangga