EmitenNews.com -  Saham-saham di Jepang mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari Selasa akibat aksi jual besar-besaran yang dipimpin oleh sektor teknologi.

Indeks Nikkei 225 anjlok 3,7 persen menjadi sekitar 62.500, sementara Indeks Topix yang lebih luas turun 2,3 persen menjadi 3.973. Penurunan ini menyeret Indeks Nikkei ke level terendah dalam dua bulan terakhir, seiring tekanan jual pada saham semikonduktor dan teknologi yang kembali meningkat di bursa domestik.

Menurut data Trading Economics, kerugian di pasar Jepang tersebut terjadi menyusul aksi jual tajam pada produsen chip Amerika Serikat sehari sebelumnya. Aksi jual di AS dipicu oleh kekhawatiran bahwa pengaturan pembiayaan kecerdasan buatan sirkular dapat terurai jika perusahaan teknologi raksasa mengurangi pengeluaran modal mereka.

Sejumlah saham di bursa Jepang mencatatkan penurunan signifikan. Sektor semikonduktor dan teknologi memimpin pelemahan, yang meliputi Kioxia Holdings turun 2,6 persen, SoftBank Group merosot 4 persen, Advantest anjlok 8,4 persen, Taiyo Yuden turun 7,3 persen, serta Tokyo Electron yang jatuh paling dalam sebesar 9,7 persen.

Selain sektor teknologi, saham-saham perbankan kelas berat turut melemah dan memperberat laju indeks. Mitsubishi UFJ mencatatkan kerugian sebesar 3,2 persen, Sumitomo Mitsui turun 3 persen, dan Mizuho Financial melemah 3,9 persen.

Di pasar komoditas global, harga minyak melanjutkan tren penurunan. Penurunan harga minyak ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melanjutkan negosiasi dengan Iran. Perundingan tersebut bertujuan untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Dinamika pasar keuangan global ini turut memengaruhi sentimen investor di kawasan Asia, termasuk pasar domestik Indonesia. Pergerakan bursa regional sering kali menjadi salah satu indikator yang dicermati oleh pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia, terutama terkait aliran modal asing dan sentimen sektor teknologi serta komoditas global yang dapat berdampak secara tidak langsung pada stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan.(*)