Nilai Tambah Manufaktur RI Teratas Di ASEAN Versi Bank Dunia
:
0
Berdasarkan data World Bank, nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia mencapai USD 265,07 miliar, menempatkan Indonesia pada posisi pertama di kawasan ASEAN, diikuti oleh Thailand dan Vietnam pada posisi kedua dan ketiga.(Foto: Dok)
EmitenNews.com - Sektor industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan kinerja positif sebagai penggerak utama perekonomian nasional. Sepanjang tahun 2025, Industri Pengolahan Non Migas (IPNM) nasional mencatatkan pertumbuhan signifikan mencapai 5,17% (YoY), lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,01%.
Selain itu, struktur industri nasional juga semakin kokoh. Berdasarkan data World Bank, nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia mencapai USD 265,07 miliar, menempatkan Indonesia pada posisi pertama di kawasan ASEAN, diikuti oleh Thailand dan Vietnam pada posisi kedua dan ketiga.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 78,39 persen dari output tersebut diserap oleh pasar domestik, yang menegaskan peran strategis industri nasional tidak hanya sebagai penggerak ekspor, tetapi juga sebagai tulang punggung pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
“Capaian kinerja industri tersebut perlu didukung oleh tata kelola yang akuntabel, efektif, dan tepat sasaran agar setiap program memberikan dampak nyata bagi pengembangan industri nasional,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada kegiatan Kick Off Pelaksanaan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) Kementerian Perindustrian Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (7/1).
Dalam pengelolaan anggaran, hingga 31 Desember 2025, realisasi total pagu DIPA Kementerian Perindustrian mencapai 83,30 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata realisasi nasional sebesar 82,41 persen. Sementara itu, realisasi berdasarkan pagu efektif telah mencapai 97,65 persen dan diharapkan terus meningkat seiring dengan penyelesaian proses administrasi pada awal Januari 2026.
“Secara nasional, realisasi anggaran Kemenperin berada pada peringkat 56 dari 104 kementerian dan lembaga. Capaian ini menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja pengelolaan anggaran ke depan,” katanya.(*)
Related News
Pasar Modal Terancam Turun Kasta, CELIOS Sentil Akuisisi BYAN
Tarif Trump Kerek Harga Baja AS ke Rekor Tertinggi 4 Tahun
Pemerintah: MSCI tak Selalu Benar, Investor tak Perlu Panik
Rupiah Terus Melemah Tertekan Penguatan USD Hari Ini
Harga Emas Kokoh di USD4.150 Imbas Konflik Timur Tengah
Aksi Jual Saham Teknologi Mereda, Indeks Nikkei Kembali Naik





