Nunggak ALF, BEI Bekukan Efek 61 Emiten
:
0
Petugas kebersihan menyisir teras depan Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan emiten penunggak annual listing fee (ALF) edisi 2025. Tercatat 61 perusahaan tercatat mengemplang ALF, dan denda keterlambatan pembayaran. Padahal, batas terakhir pembayaran pada 15 Februari 2025.
Tujuh emiten baru mulai menjalani suspensi sejak sesi I perdagangan 17 Februari 2025. Pembekuan untuk emiten itu, berlaku tercatat di pasar reguler dan pasar tunai. Dengan demikian, ada 15 emiten melakoni suspensi di pasar reguler dan pasar tunai.
Lalu, 46 emiten mengalami pembekuan di seluruh pasar. Rincian perusahaan tercatat mengalami pembekuan permanen menjadi sebagai berikut. Yaitu, Armidian Karyatama (ARMY), Ratu Prabu Energi (ARTI), Berkah Beton Sadaya (BEBS), Binakarya Jaya Abadi (BIKA), Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), Bakrie Telecom (BTEL), Cahaya Bintang Medan (CBMF), Cowell Development (COWL).
Capri Nusa Satu Properti (CPRI), Dewata Freightinternational (DEAL), Jaya Bersama Indo (DUCK), Eterindo Wahanatama (ETWA), Forza Land Indonesia (FORZ), Golden Plantation (GOLL), Geoprima Solusi (GPSO), Panasia Indo Resources (HDTX), HK Metals Utama (HKMU), Hotel Mandarine Regency (HOME), Grand House Mulia (HOMI), Saraswati Griya Lestari (HOTL).
Inti Agri Resources (IIKP), Indofarma (INAF), Indo Pureco Pratama (IPPE), Sky Energy Indonesia (JSKY), Darmi Bersaudara (KAYU), Kertas Basuki (KBRI), Steadfast Marine (KPAL), Cottonindo Ariesta (KPAS), Grand Kartech (KRAH), Eureka Prima Jakarta (LCGP), LCK Global Kedaton (LCKM), Limas Indonesia Makmur (LMAS), Marga Abhinaya Abadi (MABA).
Multi Agro Gemilang Plantation (MAGP), Mas Murni Indonesia (MAMI), Panca Anugrah Wisesa (MGLV), Mitra Komunikasi Nusantara (MKNT), Mitra Pemuda (MTRA), Hanson International (MYRX), Nipress (NIPS), Sinergi Megah Internusa (NUSA), Pollux Properties Indonesia (POLL), Pool Advista Indonesia (POOL), Prima Alloy Steel Universal (PRAS). Djasa Ubersakti (PTDU).
Trinitan Metals and Minerals (PURE), Rimo International Lestari (RIMO), Aesler Grup Internasional (RONY), Sejahtera Textile (SBAT), Siwani Makmur (SIMA), Northcliff Citranusa Indonesia (SKYB), Sri Rejeki Isman (SRIL), Sugih Energy (SUGI), Tianrong Chemicals Industry (TDPM), Indosterling Technomedia (TECH), Omni Inovasi Indonesia (TELE), Sunindo Adipersada (TOYS), Trada Alam Minera (TRAM), Triwira Insanlestari (TRIL), Widodo Makmur Perkasa (WMPP), dan Widodo Makmur Unggas (WMUU). (*)
Related News
Hunian Rp50 Miliar ke Atas Tetap Diburu, Ini Buktinya
Perbaikan Kinerja Berlanjut, Laba Bank Neo (BBYB) Meningkat Tajam
Kinerja Q1-2026 Catat Rekor, TPIA Ubah Peta Industri Asia Tenggara
Gaspol Ekspor, Setelah Afrika Kini SMGR Bidik Eropa
Muncul Nego 56,67 Juta Saham GOTO di Harga Miring Rp2 per Lembar
Sahamnya Masih Digembok, Fajar Surya Wisesa (FASW) Sasar Usaha Baru





