EmitenNews.com - Harga emas dunia bergerak stabil di kisaran USD4.600 per ons pada perdagangan Jumat dan diperkirakan mengakhiri pekan ini dengan sedikit perubahan. Pergerakan harga logam mulia ini menjadi perhatian para pelaku pasar modal dan investor komoditas di Indonesia seiring dampaknya terhadap pergerakan harga emas domestik.

Mengutip data Trading Economics pada Jumat (28/8/2026), fokus utama investor global tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium tahunan Jackson Hole untuk memperoleh petunjuk terkait arah suku bunga acuan AS.

Pasar saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 65% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan September mendatang. Kendati demikian, rilis data inflasi AS yang berada di atas ekspektasi memperkuat proyeksi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, dengan probabilitas kenaikan pada Desember berada di atas 70%.

Di sisi lain, pergerakan emas terus mendapat sentimen positif dari strategi debasement trade atau lindung nilai terhadap pelemahan nilai tukar. Kondisi ini dipicu oleh langkah Departemen Keuangan AS yang memperluas program pembelian kembali utang (buyback), sehingga memicu kekhawatiran atas risiko krisis utang dan potensi penurunan nilai tukar dolar AS lebih lanjut.

Dari dinamika geopolitik global, harga minyak dunia dilaporkan tetap berada di level tinggi. Kondisi tersebut didorong oleh eskalasi konflik Rusia-Ukraina yang mengimbangi indikasi kemajuan proses diplomatik di kawasan Timur Tengah.(*)