EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mix cenderung melemah. Pasar akan menanti rilis inflasi Indonesia dengan konsensus turun menjadi 5,5 persen. Sentimen negatif datang dari China sebagai salah satu negara tujuan ekspor terbesar Indonesia.
China kembali menerapkan lockdown akibat kenaikan kasus Covid-19. ”Kami perkirakan Indeks bergerak pada rentang support 6.990, dan resisten 7.050,” tutur Dian Ayu, Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Rabu (30/11).
Secara teknikal, Indeks membentuk candle spinning diikuti volume jual masih tinggi, indicator MACD, dan stochastic membentuk deathcross. Beberapa saham memiliki potensi naik perdagangan hari ini antara lain BBRI, PTRO, MPPA, ADRO, BBNI, HRUM, dan SMRA.
Menyudahi perdagangan kemarin, Indeks minus 0,08 persen menjadi 7.012. Sejumlah sektor mengalami koreksi di antaranya technology minus 2,82 persen, transportation susut 0,15 persen, dan financial melepuh 0,19 persen. Investor asing membukukan net buy pasar regular Rp239,16 miliar. Saham-saham paling banyak dibeli investor asing antara lain BBRI, BMRI, MDKA, BBNI, dan ADRO.
Sementara itu, ketiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street bergerak mix. Koreksi didorong kekhawatiran The Fed akan menaikkan suku bunga kembali. Sementara pasar menanti rilis data JOLTs Job Openings Oktober akan menurun menjadi 10,3 juta.
Pagi ini, bursa Asia menyusuri zona merah. Indeks Nikkei 225 melemah 0,57 persen, dan indeks Kospi juga tereduksi 0,46 persen. Pagi ini, Korea dan Jepang merilis data Industrial Production Oktober. Di mana, masing-masing tercatat minus 3,5 persen, dan 3,7 persen. (*)
Related News
IHSG Ambruk Lagi ke Bawah 6.300, Big Banks hingga BUMI Jadi Pemberat
Asing Net Sell Rp351 M di Sesi I (22/9), BBRI Paling Banyak Dilepas
IHSG Sesi I (22/9) Ambruk, Sempat Turun 1,67% Imbas Ini
Bursa Pagi Menyala, IHSG Bangkit ke Atas Level 6.400
Asing Kabur, IHSG Kembali Orbit Zona Merah
Minim Sentimen Positif, IHSG Menuju 6.300





