Siap-Siap! Indonesia Mau Pangkas Impor Bensin 8 Juta KL
:
0
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat memberikan sambutan pada acara Business Forum Himpunan Alumni IPB University di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (2/5).(Foto: ESDM)
EmitenNews.com - Meroketnya harga minyak membuat semua negara, tak terkecuali Indonesia harus menghemat bahan bakar minyak (BBM). Setelah memutuskan menyetop impor solar dengan memacu program biodiesel (B50), pemerintah kini berancang-ancang untuk mengurangi impor bensin.
Hal itu diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM), Bahlil Lahadalia saat memberikan sambutan pada acara Business Forum Himpunan Alumni IPB University di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (2/5).
Dalam sambutannya Bahlil menyebut target Indonesia secara perlahan bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM jenis bensin, menyusul kesuksesan dalam mendorong program campuran biodiesel dengan solar, yang ditargetkan segera menjadi 50 persen (B50) pada pertengahan tahun ini.
Mandatori B50 merupakan pencampuran solar dan minyak sawit yang kini mencapai 40 persen (B40), dan direncanakan meningkat menjadi 50 persen pada Juli 2026. Dengan skema ini, Indonesia diproyeksikan bakal menghentikan impor solar untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 2026.
Terinspirasi dari keberhasilan tersebut, pemerintah kini menyiapkan langkah serupa untuk BBM jenis bensin. Bahlil bahkan telah melakukan kunjungan ke Brasil, negara yang telah lebih dulu menerapkan mandatori pencampuran etanol.
Ia menilai, bahan bakunya, seperti singkong, jagung, dan tebu, tersedia melimpah di Indonesia. Pemerintah pun menargetkan kebijakan pencampuran etanol sebesar 20 persen pada bensin dapat mulai diterapkan pada 2028.
"Kalau kita mandatori 20 persen, berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter," kata Bahlil.
Untuk gas rumah tangga, tantangannya berbeda. Indonesia mengimpor 7,47 metrik ton (MT) Liquefied Petroleum Gas (LPG) per tahun karena produksi dalam negeri, sekitar 1,94 MT hanya mampu memenuhi seperlima dari kebutuhan nasional. Ditambah lagi subsidi LPG menelan hampir Rp 80-87 triliun per tahun dari kas negara.
Sebagai jalan keluar, pemerintah mengembangkan Compressed Natural Gas atau CNG, gas yang dipadatkan dan dikemas dalam tabung, yang diklaim 30-40 persen lebih murah dibanding LPG.
"Teknologi ini sudah diujicobakan di restoran dan sejumlah dapur program makan bergizi gratis, dan sedang disiapkan untuk pasar rumah tangga," ujar Bahlil.(*)
Related News
Jadestone Jajaki Akuisisi Aset Migas Produktif di Indonesia
IHSG Dibuka Ngebut 1,07 Persen ke 7.031, Berpeluang Rebound
Harga Emas Pekan Ini, Fluktuatif di Tengah Penguatan USD
Sentimen Negatif Dominan, IHSG Susuri Zona Merah
Investor Cemas Defisit APBN, IHSG Cenderung Tertekan
IHSG Siap Rebound? Analis Wanti-Wanti Sell in May Go Away





