EmitenNews.com - Pergerakan pasar global pada pekan ini diperkirakan masih dipengaruhi oleh kombinasi sentimen geopolitik, kebijakan ekonomi, serta dinamika politik global.

Pengamat mata uang dan komidtas, Ibrahim Assuibi mengungkapkan, iIndeks dolar Amerika Serikat (USD) diproyeksikan bergerak pada kisaran support di level 97,00 dan resistance di 102,00, dengan kecenderungan menguat. Sementara itu, harga minyak mentah dunia jenis WTI diperkirakan berada pada rentang support 92 dan resistance 114.

"Dari sisi nilai tukar, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran level 17.550 terhadap dolar AS pada perdagangan pekan ini," ujar Ibrahim, dikutip Senin (4/5/2026).

Adapun harga emas dunia yang sebelumnya ditutup di level 4.616 diperkirakan akan mengalami fluktuasi. Jika terjadi koreksi, emas berpotensi menguji support di level 4.520 dan 4.389. Namun, apabila menguat, harga emas berpeluang menembus resistance di level 4.702 hingga 4.851.

Sejalan dengan pergerakan emas global, harga logam mulia di dalam negeri tercatat berada di level Rp2.796.000 per gram. Jika melemah, harga diperkirakan turun ke level Rp2.786.000 hingga Rp2.750.000 per gram. Sebaliknya, jika terjadi penguatan, harga logam mulia berpotensi naik ke Rp2.866.000 hingga Rp2.900.000 per gram.

"Secara jangka menengah, pada kuartal II-2026, harga emas dunia diproyeksikan masih berpeluang menguat hingga level 5.400, dengan harga logam mulia domestik diperkirakan mencapai Rp3.300.000 per gram," ungkap Ibrahim.

Sejumlah faktor dinilai menjadi pendorong utama pergerakan pasar, terutama ketegangan geopolitik global yang terus meningkat. Konflik di Timur Tengah, termasuk potensi eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta situasi di Lebanon selatan yang masih memanas, menjadi sentimen utama bagi harga minyak dan emas.

Di sisi lain, dinamika politik di Amerika Serikat juga turut memengaruhi pasar, termasuk potensi kebijakan perang dan kebutuhan persetujuan anggaran oleh Kongres. Selain itu, tensi perang dagang kembali meningkat, seiring rencana penerapan tarif impor sebesar 25 persen oleh Amerika Serikat terhadap sejumlah negara Eropa. (*)