EmitenNews.com - Pedagang Tanah Abang belakangan ini mengeluhkan penurunan omzet karena sepinya pembeli. Bahkan sebagian pedagang terpaksa menutup lapaknya disebabkan pemasukan yang didapat dari penjualan tidak menutup biaya operasional sehari-hari.


Atas keluhan itu Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menko UKM) Teten Masduki, Selasa (19/9/2023) kemarin melakukan kunjungan ke pasar terbesar di Asia Tenggara tersebut.


Dari hasil kunjungannya Teten menekankan pentingnya perlindungan terhadap ekonomi domestik termasuk bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), salah satunya melalui keberpihakan regulasi dibidang transformasi digital.


Termasuk kebijakan investasi, kebijakan perdagangan, dan kebijakan persaingan usaha. Ia mengatakan era digital memang tidak terhindarkan sehingga para pedagang dan pelaku UMKM di dalamnya harus go digital dan terus berinovasi.


“Jadi isunya bukan pedagang offline kalah dengan mereka yang online, namun bagaimana UMKM yang sudah go online harus memiliki daya saing dan mendorong produk lokal untuk tumbuh dan berkembang,” kata


Pihaknya akan melihat kembali perlunya pengaturan untuk platform digital baik yang di tingkat domestik atau yang berasal dari luar negeri. Seperti SNI, izin halalnya, atau izin lainnya.


Hingga saat ini pedagang UMKM yang berjualan secara online sebagian besar merupakan seller produk impor atau mereka tidak memiliki produk sendiri.


Ia menekankan pentingnya untuk memproteksi atau melindungi ekonomi domestik agar pasar digital Indonesia yang potensinya sangat besar tidak dikuasai oleh asing.


Salah satu langkah yang mendesak saat ini yakni merealisasikan kebijakan transformasi digital dari sisi investasi, perdagangan, maupun persaingan usaha. Data menunjukkan, pertumbuhan pasar perdagangan elekronik cukup pesat.

“Dengan data pertumbuhan perdagangan elektronik yang demikian, Menteri Teten memastikan digitalisasi harus memberikan manfaat bagi masyarakat terutama pelaku UMKM,” kata Menteri Teten.


Pasar belanja online Indonesia harus memberikan kesejahteraan bagi para pelaku usaha lokal, bukan produsen dari negara lain. Belum lagi, program pemerintah untuk mendorong pertumbuhan UMKM di Indonesia akan terganggu bila barang-barang dari luar masuk begitu mudahnya.


Juliarti salah satu pemilik usaha toko baju wanita di Tanah Abang mengaku, pendapatannya menurun hingga 50 persen sejak musim Lebaran 2023 hingga saat ini. Bahkan ia telah mencoba berjualan online namun tetap saja sepi pembeli.


Ia mengatakan sudah berjualan di Tanah Abang selama 10 tahun lebih, dan memang saat ini dampaknya yang paling terasa.


“Sebenarnya saya setuju saja tetap ada e-commerce. Tetapi memang harus adil, dan harganya sesuai dengan yang ada di pasar,” katanya.(*)