Pasar Tradisional Jakarta Menuju Era Digitalisasi, Tahun Ini Capai 110
Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya terus mendorong digitalisasi pasar tradisional di Ibu Kota. Targetnya tidak main-main, sebanyak 110 pasar sudah bisa menerapkan sistem digital tahun 2026 ini. Dok. Periskop.id.
EmitenNews.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengoptimalkan digitalisasi pasar tradisional. Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya terus mendorong digitalisasi pasar tradisional di Ibu Kota. Targetnya tidak main-main, sebanyak 110 pasar sudah bisa menerapkan sistem digital tahun 2026 ini.
“Sudah 60 pasar digitalisasi. Kita tambah lagi insya Allah sampai dengan 50 pasar tahun ini. Berarti 110-an selesai tahun ini," kata Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan di Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (8/4/2026).
Hingga tahap ketiga pelaksanaan, sebanyak 60 pasar telah berhasil terdigitalisasi dari total sekitar 153 pasar yang berada di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya.
Program digitalisasi ini merupakan bagian dari transformasi besar yang didorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di tengah perkembangan ekonomi digital.
"Ini digitalisasi pasar tahap ketiga. Kita mulai dari Juli 2025, kemudian Desember 2025. Sekarang tahap ketiga. Sampai saat ini sudah 60 pasar dari total 153 pasar yang kami kelola," jelas Agus Himawan.
Pada tahun 2026 ini pihak Pasar Jaya menargetkan tambahan sekitar 50 pasar untuk masuk dalam program digitalisasi.
Dengan demikian, total pasar yang terdigitalisasi ditargetkan mencapai sekitar 110 pasar atau mayoritas dari keseluruhan pasar yang dikelola Pasar Jaya.
Program digitalisasi pasar ini tidak hanya berfokus pada penerapan sistem pembayaran nontunai, tetapi juga mencakup penguatan ekosistem keuangan digital secara menyeluruh.
Mulai dari penggunaan QRIS, integrasi layanan perbankan, hingga peningkatan literasi keuangan bagi para pedagang.
Dalam implementasinya, Pasar Jaya menggandeng sejumlah mitra strategis, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jabodebek, Bank Indonesia Perwakilan Jakarta.
Kemudian, perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan Bank Jakarta. Selain itu, dukungan juga datang dari platform pembayaran digital swasta.
Kolaborasi lintas lembaga ini dinilai menjadi faktor kunci dalam mempercepat proses digitalisasi di lapangan. Agus menekankan pentingnya sinergi antara regulator, perbankan, dan pengelola pasar untuk memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran. Selain itu, juga terus melakukan literasi dan edukasi kepada para pedagang.
Edukasi menjadi aspek penting dalam program ini, mengingat masih adanya kekhawatiran sebagian pedagang terhadap penggunaan sistem digital, khususnya terkait keamanan transaksi.
Namun, Agus memastikan bahwa sejauh ini respons pedagang cukup positif. Menurutnya, kepercayaan pedagang meningkat karena program ini didukung langsung oleh lembaga resmi pemerintah, seperti Bank Indonesia dan OJK, yang menjamin keamanan sistem serta pengawasan yang ketat.
Selain itu, kehadiran sistem digital juga dinilai memberikan sejumlah manfaat bagi pedagang, mulai dari kemudahan transaksi, pencatatan keuangan yang lebih rapi, hingga potensi peningkatan omzet melalui akses pembayaran yang lebih luas.
Ke depan, Pasar Jaya berencana melanjutkan program ini ke tahap keempat dengan menjangkau lebih banyak pasar. Usulan untuk pelaksanaan tahap lanjutan tersebut akan kembali diajukan kepada OJK Jabodebek agar dapat segera direalisasikan. ***
Related News
Kasus Restitusi Pajak, KPK Panggil Direktur Keuangan Adaro Wamco Prima
Efisiensi Anggaran, Soal Wacana Pemotongan Gaji Menteri Belum Dibahas
Tidak ada Kabar Proyek MRT Bali, Rupanya Masih Tunggu Investor
Konsisten! Pupuk Kaltim Pertahankan Proper Emas ke-9
Polri Bongkar Kasus Penyalahgunaan BBM-LPG Subsidi Kerugian Rp1,26T
Penuhi Panggilan Kemkomdigi, Meta dan Google Diperiksa Soal PP Tunas





