PDB Rendah Terhadap Pendapatan, Prospek Pertumbuhan Jangka Menengah Indonesia Baik
:
0
EmitenNews.com -Fitch Ratings telah mengafirmasi Peringkat Issuer Default Rating (IDR) Mata Uang Asing Jangka Panjang Indonesia di 'BBB' dengan Outlook Stabil.
Fundamental Kredit: Peringkat Indonesia menyeimbangkan prospek pertumbuhan jangka menengah yang baik dan rasio utang pemerintah/PDB yang rendah terhadap pendapatan pemerintah yang lemah dan fitur struktural yang tertinggal, seperti indikator tata kelola, dibandingkan dengan negara-negara lain di kategori 'BBB'. Beberapa metrik keuangan eksternal, seperti transaksi berjalan, lebih kuat dibandingkan tingkat sebelum pandemi, namun akan menjadi normal dalam beberapa tahun ke depan, dengan asumsi bahwa harga komoditas akan semakin turun.
Prospek Pertumbuhan yang Solid: Konsumsi dalam negeri bertahan dengan baik, mendukung perkiraan kami sebesar 5,0% pertumbuhan PDB riil pada tahun 2023, meskipun ekspor neto mulai memberikan kontribusi yang sedikit negatif terhadap pertumbuhan dan risiko penurunan semakin menguat seiring dengan melemahnya pemulihan ekonomi Tiongkok. Pertumbuhan telah stabil pada tingkat sebelum pandemi dengan pendapatan hanya di atas 5% selama tujuh kuartal terakhir. Kami memperkirakan pertumbuhan akan terus berada pada kisaran ini, yaitu sebesar 5,2% pada tahun 2024 dan 5,0% pada tahun 2025.
Kegiatan perekonomian akan mendapat dorongan dalam jangka menengah dari penerapan reformasi beberapa tahun terakhir dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, termasuk pembangunan ibu kota baru, Nusantara, di Kalimantan Timur. Data pertumbuhan triwulanan menunjukkan bahwa investasi belum banyak terpengaruh oleh ketidakpastian terkait pemilihan umum yang dijadwalkan pada bulan Februari 2024. Belanja partai untuk pemilu juga dapat mendukung pertumbuhan dalam enam bulan ke depan.
Inflasi Terkendali: Kebijakan moneter yang ketat dan koordinasi untuk menahan kenaikan harga pangan lokal telah membawa inflasi kembali ke titik tengah kisaran sasaran tahun 2023 (3,0% +/- 1%), yaitu sebesar 3,3% pada bulan Agustus 2023, dari puncaknya pada bulan Agustus 2023. 6,0% pada bulan September 2022. Cuaca kering akibat El Nino merupakan risiko utama terhadap perkiraan kami sebesar 2,7% pada tahun 2023 dan 3,0% pada tahun 2024, karena hal ini dapat mempengaruhi panen dan harga makanan dan minuman, yang merupakan 25% dari keranjang CPI. Target tersebut akan diturunkan pada tahun 2024 menjadi 2,5% +/- 1%, namun kami memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mulai menurunkan suku bunganya pada awal tahun depan, karena tidak adanya tekanan depresiasi yang parah terhadap rupiah.
Related News
Beli di Bawah 1 Persen Saham GOTO, Danantara Ingin Sejahterakan Ojol
Bertemu Menperin, Menkeu Purbaya Ungkap Pemerintah Siapkan Insentif EV
Rupiah Undervalued, BI Bakal Batasi Pembelian Dolar USD25.000/Bulan
Penerbitan Panda Bonds RI di China Janjikan Bunga Lebih Kompetitif
Indeks KOSPI Tembus Rekor Baru 7.000 Hari Ini
Penerimaan Pajak Tumbuh 20,7 Persen, Purbaya Puji Coretax





