EmitenNews.com- PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menegaskan peringkat "idAA+" untuk PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan peringkat "idAA-(sy)" untuk Sukuk Subordinasi Mudharabah Tahun 2016 milik Bank yang masih beredar. Adapun prospek untuk peringkat kredit Perusahaan direvisi menjadi "positif" dari sebelumnya "stabil". "Perubahan prospek tersebut mencerminkan pandangan kami bahwa transaksi penggabungan usaha antara PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIsyariah), PT Bank BNI Syariah (BNI Syariah) dan PT Bank Syariah Mandiri akan meningkatkan profil kredit bank hasil penggabungan usaha yang akan menjadi bank syariah terbesar di Indonesia yang dimiliki oleh bank-bank milik negara,"kata Analis PEFINDO, Hasnalia Hanifah dan Kreshna Dwinanta Armand, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (11/11). Penggabungan usaha ini akan menghasilkan satu bank syariah dengan total aset melebihi Rp214,7 triliun atau setara dengan sekitar 40,4% industri perbankan syariah dan 2,4% industri perbankan per Juni 2020, yang akan menjadikannya bank terbesar ke-7 di industri perbankan. Dalam jangka panjang, merger akan meningkatkan profil bisnis bank gabungan dengan memanfaatkan jaringan group induk, diversifikasi pembiayaan dan struktur pendanaan yang lebih baik, serta indikator keuangan yang lebih kuat. "Mengacu pada tabel waktu resmi, merger dijadwalkan selesai pada Februari 2021, dan kami melihat kemungkinan besar rencana ini dapat terwujud. BRIsyariah akan menjadi surviving entity dari penggabungan usaha ini dan kepemilikan sahamnya akan dimiliki secara proporsional oleh pemegang saham bank-bank peserta penggabungan usaha, termasuk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (peringkat idAAA / stabil), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (peringkat idAAA / stabil), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI, peringkat idAAA / stabil), dan publik. Pada saat terjadinya penggabungan usaha, kami dapat menindaklanjuti outlook positif BSM dan kemudian melakukan penarikan peringkat tersebut, mengingat entitas BSM sebagai non surviving entity akan melebur ke BRIsyariah yang merupakan surviving entity dari aksi penggabungan usaha ini, termasuk surat utang yang diterbitkan BSM,"jelasnya. Obligor dengan peringkat idAA memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi yang diberikan, dan memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang relatif dibandingkan terhadap obligor Indonesia lainnya. Tanda Tambah (+) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif kuat dan di atas rata-rata kategori yang bersangkutan. Efek utang dengan peringkat idAA memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi yang diberikan, dan kemampuan Obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang tersebut, dibandingkan dengan Obligor lainnya di Indonesia, adalah sangat kuat. Tanda Kurang (-) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan di bawah rata-rata kategori yang bersangkutan. Akhiran (sy) memiliki makna peringkat mempersyaratkan pemenuhan prinsip Syariah. Peringkat tersebut mencerminkan dukungan yang sangat kuat dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Bank Mandiri atau BMRI, mendapat peringkat idAAA/stabil), posisi yang sangat kuat di segmen perbankan syariah, serta likuiditas dan fleksibilitas keuangan yang kuat. Peringkat tersebut dibatasi oleh profil kualitas aset yang moderat. Peringkat dapat dinaikkan apabila proses penggabungan usaha dapat diselesaikan sesuai jadwal dan skema yang direncanakan. Outlook Peringkat dapat diubah kembali menjadi stabil apabila proses penggabungan usaha ini dibatalkan atau ditunda tanpa adanya jadwal yang jelas. "Kami berpandangan bahwa pandemi COVID-19 berdampak sedang terhadap profil risiko industri perbankan syariah, mengingat penurunan bisnis yang substansial di hampir semua sektor akan berdampak pada penurunan permintaan pembiayaan dan layanan perbankan lainnya. Selain itu, perlambatan bisnis akan melemahkan kemampuan pembayaran debitur, dan penurunan kualitas aset selanjutnya akan memberikan tekanan tambahan pada indikator profitabilitas dan likuiditas bank. Profil permodalan industri yang baik dan posisi likuiditas yang memadai dapat memitigasi sebagian risiko tersebut. Saat ini, kami berpandangan bahwa dampak COVID-19 terhadap profil kredit BSM secara keseluruhan akan tetap terkendali, didukung oleh profil permodalan yang kuat, keberadaan yang sangat kuat di industri perbankan syariah, dan posisi likuiditas yang kuat dengan porsi dana murah yang tinggi,"terangnya. "Hal ini juga didukung oleh rendahnya konsentrasi deposan teratas, sehingga mengurangi risiko penarikan simpanan yang besar dan mendadak. Namun, kami mengakui eksposur Bank yang substansial terhadap sektor-sektor yang terkena dampak COVID-19 seperti hotel dan restoran, rumah tangga, transportasi, real estat, dan perdagangan, yang berkontribusi lebih dari 50% atas portofolio pembiayaan Bank pada akhir September 2020. PEFINDO akan terus memantau dampak pandemi COVID-19 terhadap kinerja dan profil kredit BSM secara keseluruhan,"imbuhnya.