Pelajaran Berharga dari Kasus Dana Syariah Indonesia
Ilustrasi foto kasus dana syariah. Sumber Foto: AI/LBS Urun Dana.
Keempat, lender atau investor sudah semestinya sudi mengembangkan diri sehingga memiliki pengetahuan yang cukup sebagai senjata sebelum perang. Alhasil, lender tidak tergoda habis oleh tawaran imbal hasil setinggi langit. Ada kecenderungan bahwa fraud akan makin marak ketika pertumbuhan ekonomi melambat seperti saat ini.
Kelima, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah mendalami aliran dana DSI. Dalam temuan awalnya, PPATK menilai aktivitas DSI terindikasi sebagai skema ponzi yang dibungkus dengan konsep syariah.
Selain itu, PPATK hendaknya juga meneliti apakah kasus DSI terindikasi adanya pencucian uang. Ini penting dan mendesak untuk dilakukan mengingat investasi juga merupakan salah satu instrumen untuk melakukan pencucian uang.
Pastinya, kasus itu bisa merusak kepercayaan pasar terhadap industri keuangan syariah. Oleh karena itu, OJK pun wajib bertanggung jawab atas kasus DSI. Mengapa? Lantaran hal itu terkait erat dengan tugas dan wewenang OJK untuk mengatur, mengawasi dan melindungi kegiatan jasa keuangan.
Ringkas tutur, pengawasan OJK harus ditingkatkan! Inilah ujian berat OJK di tengah badai pasar keuangan Indonesia.
Disclaimer: Bukan rekomendasi transaksi jual/beli.
Related News
BEI Pertimbangkan Buka Kode Broker: Angin Segar bagi Investor Ritel?
Hijau yang Berbahaya: Saat IHSG Menguat Tapi Risiko Belum Pergi
BEI Tunduk pada MSCI: Integrasi Global atau Pengorbanan Emiten Lokal?
Menakar Dampak Aturan Baru Free Float 15 Persen Bursa Efek Indonesia
Pembekuan Izin Underwriter: Alarm Keras bagi Tata Kelola Pasar Modal
IPO Dulu, Masalah Kemudian: Ada Apa dengan Pengawasan OJK dan BEI?





