EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,82 persen menjadi 6.318, setelah bergerak fluktuatif. Secara teknikal, Stochastic RSI berada di area oversold, dan berpotensi membentuk golden cross. Namun, pelebaran histogram negatif MACD masih berlanjut. 

Dengan demikian, IHSG diperkirakan bergerak variatif pada kisaran support 6.200-6.250, dan resistance pada 6.400-6.450. Presiden Prabowo dihadapan DPR  menyampaikan target defisit anggaran 2027 sebesar 1,8-2,4 persen product domestic bruto (PDB). Asumsi dasar makro ekonomi RAPBN 2027 sebagai berikut.

Pertumbuhan ekonomi kisaran 5,8-6,5 persen, inflasi 1,5-3,5 persen, nilai tukar Rupiah di level Rp16.800-Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (USD), dan suku bunga SBN 10 tahun kisaran 6,5-7,3 persen.  Selain itu, Prabowo juga menyebut akan mewajibkan ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) melalui BUMN sebagai pengekspor tunggal. 

Aturan tersebut akan dimulai dari komoditas crude palm oil (CPO), batu bara, dan paduan besi. Diperkirakan investor akan cenderung wait and see terlebih dulu menyikapi asumsi RAPBN 2027, dan kebijakan ekspor SDA tersebut. Bank Indonesia (BI) mengerek BI Rate 50 bps menjadi 5,.5 persen dalam RDG Mei 2026, melebihi ekspektasi 5 persen. 

Itu merupakan kenaikan pertama sejak April 2024, sebagai upaya memperkuat stabilitas Rupiah, meredam risiko inflasi, dan menjaga laju inflasi dalam kisaran target pemerintah. Namun, masih perlu dicermati efek kenaikan BI Rate terhadap pergerakan Rupiah lebih lanjut, perlu diwaspadai dampak negatif terhadap sektor properti, dan perusahaan banyak memiliki utang.

Sementara itu, pertumbuhan kredit April 2026 menjadi 9,98 persen YoY dari Maret 2026 di level 9,49 persen YoY. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor mengoleksi saham Bukit Asam (PTBA), Ciputra (CTRA), Unilever (UNVR), Bank BBTN (BBTN), dan Wismilak (WIIM). (*)