Pemerintah: MSCI tak Selalu Benar, Investor tak Perlu Panik
:
0
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo meminta para investor tak perlu panik dengan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Foto: Alumni IPB
EmitenNews.com - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo meminta para investor tak perlu panik dengan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait ancaman penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.
Dradjad mengatakan MSCI memang lembaga besar dan memiliki reputasi tinggi, namun bukan berarti lembaga keuangan ini selalu benar. “Bahwa MSCI itu punya reputasi tinggi, ini iya, bahwa kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, iya. Tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka (MSCI) tidak selalu benar,” kata Drajad di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Dradjad berpesan agar investor melakukan perhitungan secara mandiri dalam menentukan pilihan investasi di bursa efek Indonesia. ”Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman investor domestik, ini tolong lakukan sendiri hitung-hitungannya,” ujar Drajad sebagaimana dikutip Antaranews.com.
Drajad menjelaskan bahwa reputasi MSCI sebagai penyedia indeks global tetap perlu diperhatikan. Namun, rekomendasinya tidak selalu memberikan hasil investasi yang lebih baik dibandingkan indeks lainnya.
Wamenko memberi contoh analisis lain yang berasal dari Deutsche Börse, yang menunjukkan bahwa ketika indeks saham Jerman (DAX) mencatatkan kenaikan tinggi, namun The MSCI World Index justru mencatatkan kinerja negatif.
“Artinya apa? Artinya tidak semua yang dilakukan oleh MSCI itu menguntungkan bagi investor,” jelasnya.
Menurut Dradjad, terdapat berbagai simulasi yang menunjukkan bahwa imbal hasil atau return dari MSCI lebih rendah dibandingkan alternatif lainnya.
Ia menilai komposisi indeks MSCI World yang didominasi saham Amerika Serikat (AS), perlu menjadi pertimbangan investor dalam menilai kinerja indeks tersebut.
"Jadi ada bias Amerika di situ. Maksudnya bobot Amerika terlalu besar di situ," ucapnya.
Meski demikian, Drajad menyampaikan bahwa pemerintah tetap akan melanjutkan reformasi pasar modal untuk memperbaiki tata kelola dan menjawab sejumlah persoalan yang menjadi perhatian MSCI.
Related News
Rupiah Terus Melemah Tertekan Penguatan USD Hari Ini
Harga Emas Kokoh di USD4.150 Imbas Konflik Timur Tengah
Aksi Jual Saham Teknologi Mereda, Indeks Nikkei Kembali Naik
Stok Minyak AS Menyusut, Harga Brent Tembus USD105 per Barel
Dow Jones: Karhutla dan El Nino Ancam Ekspor Batubara RI
Investor Alihkan Saham AI ke Sektor Kesehatan, S&P 500 Rebound





