Pendalaman Kasus Banten, Polisi Bongkar Pabrik Ekstasi Jaringan Internasional di Semarang
:
0
Tim Gabungan Direktorat Narkoba Polda Jawa Tangan, dan Mabes Polri menggulung pabrik narkoba jenis ekstasi jaringan internasional, di Kota Semarang. dok. Jateng News.
EmitenNews.com - Dari pendalaman kasus di Tangerang, Banten, Tim Gabungan Direktorat Narkoba Polda Jawa Tengah, dan Mabes Polri menggulung pabrik narkoba jenis ekstasi jaringan internasional. Dalam penggerebekan polisi menangkap dua pelaku pembuat ekstasi di rumah kontrakan di Jalan Palebon 5, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Petugas juga menyita ribuan pil ekstasi siap edar, serta mesin pembuat pil ekstasi.
Kepada pers, di lokasi kejadian, Jumat (2/6/2023), Wakapolda Jateng, Brigjen Pol Abiyoso Seno Aji mengatakan, pengungkapan kasus ini merupakan hasil pendalaman kasus serupa di Tangerang, Banten. Untuk penindakan di Kota Semarang, kepolisian mengamankan dua orang tersangka yang merupakan warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, masing-masing berinisial MR (28) dan ARD (24).
"Kedua pelaku asal Tanjung Priok Jakarta Utara. Pengangguran. Kenal yang nyuruh itu dikenalkan seseorang yang dulu sama-sama suka nongkrong di Kemayoran. Ini pengakuan, belum pendalaman. Mereka dikenalkan ke aktor yang muncul di Semarang," kata Brigjen Abiyoso Seno Aji.
Hasil pemeriksaan menunjukkan, kedua tersangka ini masuk jaringan narkotika internasional, sesuai bukti-bukti yang diperoleh polisi. Hal itu dibuktikan dengan adanya alat cetak ekstasi, yang didatangkan dari luar negeri, dan bahan-bahannya tidak ada di dalam negeri.
Pengungkapan tidak hanya di Semarang namun juga di Tangerang, Banten. Abiyoso menyebutkan pelaku diduga jaringan kejahatan tersebut tidak hanya nasional namun jaringan internasional.
Related News
Yield Obligasi 10 Tahun AS dan Australia Bertahan di Bawah 5 Persen
Harga Emas Antam Naik Lagi Rp17.000 per Gram
Saham-Saham di AS Ditutup Menguat Karena Harapan Konflik Mereda
Tekanan Hantui Nilai Tukar Rupiah, Potensi Melemah hingga Rp17.420
Harga Emas Dunia Masih Dekati USD4.700 per Ons
Santuni Korban KRL, Bukti Negara Hadir di Tengah Duka





