Pendapatan Boleh Gacor, Kenapa Kantong WSKT Masih Jebol di Q3-2026?
:
0
Pendapatan Boleh Gacor, Kenapa Kantong WSKT Masih Jebol di Q3-2026? Dok. Keuangan News
EmitenNews.com - Ibarat orang yang sedang bekerja keras, berlari siang dan malam, Waskita Karya sejatinya sedang dalam fase sibuk-sibuknya mendapat banyak proyek, namun sayangnya mereka berlari sambil memikul karung beban di punggungnya. Laporan keuangan kuartal ketiga PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) tahun ini menceritakan kisah dua sisi mata uang: operasional yang mulai bergeliat kencang, namun terus-menerus tercekik oleh warisan utang masa lalu yang belum berkesudahan. Mari kita bedah lebih dalam ke mana sebenarnya muara dari triliunan rupiah uang yang berputar di perusahaan pelat merah ini.
Proyek Jalan Terus, Pendapatan Melesat Tajam
Kinerja pendapatan perusahaan pada sembilan bulan pertama tahun 2026 ini sebenarnya sangat pantas mendapat apresiasi. Total omzet melesat tajam 53,73% menjadi Rp8,12 triliun, meninggalkan jauh capaian tahun sebelumnya yang hanya berada di angka Rp5,28 triliun.
Jika ditelusuri dari mana datangnya uang tersebut, mesin utamanya jelas masih didominasi oleh jasa pelaksanaan konstruksi yang menyetor pemasukan hingga Rp6,45 triliun. Menyusul di belakangnya ada setoran dari pengelolaan jalan tol sebesar Rp987 miliar dan penjualan beton pracetak senilai Rp362 miliar. Sisa pundi-pundi lainnya diisi oleh bisnis properti senilai Rp88 miliar, hotel Rp75 miliar, infrastruktur lainnya Rp148 miliar, dan penyewaan gedung sebesar Rp9,3 miliar.
Usut punya usut, lonjakan pesanan ini paling banyak disuntik oleh pihak ketiga dengan total Rp6,75 triliun. Pelanggan super alias penyumbang tunggal terbesarnya tidak lain adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang nilai proyeknya menyentuh angka fantastis Rp3,91 triliun, atau hampir separuh dari total pendapatan perusahaan secara keseluruhan.
Pendapatan signifikan lainnya datang dari pengelola tol seperti PT Waskita Sriwijaya Tol sebesar Rp745 miliar dan PT Pemalang Batang Toll Road senilai Rp440 miliar, sedangkan dari pihak berelasi tercatat menyumbang Rp1,36 triliun, dipimpin oleh proyek PT Trans Jabar Tol dan PT Hutama Karya.
Banting Tulang di Konstruksi, Cuan Besar Malah dari Jalan Tol
Di balik gemerlapnya triliunan rupiah pendapatan yang masuk, ada kenyataan pahit yang harus ditelan. Laba kotor perusahaan justru merosot tipis 2,09% menjadi Rp959 miliar dari capaian tahun lalu sebesar Rp979 miliar. Penyebabnya sangat jelas, biaya modal atau beban pokok pendapatan membengkak jauh lebih buas sebesar 66,44% menjadi Rp7,16 triliun, dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp4,30 triliun.
Fakta paling mengejutkan muncul ketika kita membongkar jeroan rincian segmen operasinya. Divisi konstruksi yang membukukan pendapatan Rp6,45 triliun ternyata sangat boros biaya, terbukti dari beban pokoknya yang mencapai Rp6,20 triliun, sehingga hanya menyisakan secuil laba kotor sebesar Rp244 miliar.
Ini membuktikan betapa tipisnya keuntungan dari bisnis jasa konstruksi murni. Ironisnya, tulang punggung pencetak cuan terbesar justru datang dari anak usaha di sektor jalan tol, yang berbekal pendapatan Rp987 miliar mampu menghasilkan laba kotor hingga Rp574 miliar karena bebannya hanya Rp413 miliar. Segmen lain turut menyumbang porsi kecil yang lumayan, seperti beton pracetak dengan laba kotor Rp62 miliar, properti dan hotel Rp61 miliar, serta infrastruktur lainnya Rp7 miliar.
Related News
Suspended Gegara Free Float, Saham Mertua Syahrini Mau Bagi Dividen
9 Tahun 1.500 Gerai, Kopi Kenangan Pilih Debut di Bursa Singapura?
Sentimen Positif CPO, Efisiensi Operasional Jadi Kartu As Saham AALI?
Prapenjualan Residensial Melandai, Pendapatan Berulang BSDE Tumbuh 19%
MRT Bakal Tembus BSD, Kartu Cuan Sakti Raksasa Properti Grup Sinar Mas
Bursa Era 1 Perak: GOTO Runtuh, Gocapers Pesta Pora Rajai Transaksi





