EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan akhir pekan, Jumat (21/8/2026) kembali berakhir di zona hijau dengan ditutup menguat 24,1 poin atau 0,37% ke level 6.525,69.

IHSG sudah langsung menguat ke 6.524,25 di pembukaan perdagangan pagi dan sempat tembus level tertinggi intraday di 6.551,97.

Aksi beli mendominasi tercermin dari penguatan harga 319 saham. Sebanyak 294 melemah, dan 178 saham lainnya stagnan.

Volume transaksi hari ini terbilang tinggi yaitu sebanyak 58,08 miliar saham dengan frekuensi 2,25 juta kali, dan total nilai perdagangan Rp17,42 triliun.

Saham tambang batubara kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim yaitu Bumi Resources (BUMI) yang menguat 3,16% ke Rp196 per saham menguasai seluruh parameter saham paling aktif hari ini. Dari sisi nilai perdagangan, volume, frekuensi transaksi dilibas seluruhnya

Berdasarkan data RTI Business, nilai transaksi BUMI paling tinggi (Top Value) yaitu Rp1,2 triliun. Menyusul adalah Bank Rakyat Indonesia (BBRI) senilai Rp1,1 triliun harga naik 2,87% ke Rp3.230, dan Chandra Asri Pacific (TPIA) senilai Rp666,9 miliar harga menguat 3,31% ke Rp2.030.

Untuk saham teraktif dari sisi volume (Top Volume), BUMI juaranya yaitu sebanyak 6,2 miliar saham, disusul Bakrie & Brothers (BNBR) sebanyak 3,6 miliar saham tapi harga turun 0,96%, dan Jababeka (KIJA) sebanyak 1,7 miliar saham harga merosot 2,91%.

Setelah BUMI yang ditransaksikan sebanyak 91.475 kali, saham Top Frequency berikutnya adalh KIJA sebanyak 63.846 kali, dan Oxala Energy Internasional (PIPA) sebanyak 63.674 kali harga menguat 16,99% ke Rp179 per saham.

Di jajaran 45 saham terlikuid, tiga saham ini menempati posisi Top Gainers, yaitu Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) naik 4,73% ke Rp1.440, Bank Negara Indonesia (BBNI) naik 3,9% ke Rp3.730, dan BUMI yang menguat 3,16%.

Di lain sisi, anggota LQ45 dengan penurunan terdalam (Top Losers) dipimpin Unilever Indonesia (UNVR) melemah 2,18% ke Rp1.795, Medco Energi Internasional (MEDC) turun 2,11% ke Rp1.390, dan Surya Citra Media (SCMA) merosot 1,82% ke Rp216 per saham.