Perang Tiada Akhir, IHSG Bergerak Sideways
Suasana penutupan perdagangan IHSG akhir 2025. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,94 persen menjadi 7.097 akhir pekan lalu. Sentimen negatif masih berasal dari ketidakpastian mengenai perundingan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan perang. Pernyataan kontradiktif diantara kedua negara tersebut menimbulkan ketidakpastian tinggi.
Kenaikan harga minyak mentah, dan gas alam juga menjadi sentiment negatif, di tengah kekhawatiran akan gangguan suplai, dan dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi. Rupiah ditutup melemah 0,45 persen menjadi Rp16.980 per dolar AS (USD) di pasar spot. Saham sektor infrastruktur mencatat koreksi terbesar 1,29 persen.
Sebaliknya, sektor energi membukukan penguatan terbesar 0,35 persen. Secara teknikal, Indeks diperkirakan masih cenderung bergerak sideways pada kisaran 7.000-7.200. Sementara itu, data Money Supply M2 menunjukkan kenaikan 8,7 persen YoY edisi Februari 2026, melambat dari Januari 2026 sebesar 10 persen.
Kenaikan itu, terutama dikontribusikan pasokan M1 tumbuh 14,4 persen YoY, dan uang kuasi meningkat 3,1 persen YoY. Pertumbuhan penyaluran kredit juga berkontribusi kepada kenaikan jumlah uang beredar. Pekan ini, akan rilis indeks S&P Global Manufacturing PMI Maret 2026, neraca perdagangan Februari 2026, dan inflasi Maret 2026.
Berbekal data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para investor untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Medco Energi Internasional (MEDC), Energi Mega Persada (ENRG), Petrosea (PTRO), Aneka Tambang alias Antam (ANTM), dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN). (*)
Related News
Wall Street Drop, Aksi Jual Sandera IHSG
IHSG Lanjut Koreksi, Serok Saham CUAN, DSNG, dan UNTR
BTN Run 2026 for Charity Hasilkan Donasi Rp760 Juta
Hemat Energi, Pertamina Dorong Karyawan Gunakan Transportasi Publik
Kemlu-Pertamina Bahas Pembebasan Dua Kapal Tanker RI di Selat Hormuz
35 Persen MinyaKita Didistribusikan Lewat Bulog





