Pergerakan Wall Street Angkat Indeks Saham Asia di Sesi Pembuka
:
0
EmitenNews.com - Indeks saham di Asia pagi ini Rabu (8/6) dibuka naik mengikuti pergerakan indeks saham utama di Wall Street.
Semalam ketiga indeks saham utama di Wall Street berakhir di zona hijau dan mencatatkan kenaikan selama 2 hari beruntun. Namun tekanan terhadap pasar saham di yakini belum akan berakhir dengan S&P 500 masih anjlok 13% tahun ini.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun turun lebih dari 5 bps menjadi 2.99% menjelang rilis data inflasi (CPI) bulan Mei AS pada hari Jumat nanti.
"Investor akan mencari sinyal bahwa kenaikan harga-harga sudah mencapai puncaknya dengan harapan adanya jeda pada pengetatan kebijakan moneter di 3Q22," kata analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha.
Menurutnya investor mencerna rilis laporan Global Economic Prospects terkini oleh Bank Dunia. Dalam laporan tersebut Bank Dunia memperingatkan bahwa prospek ekonomi global menghadapi ancaman serius (downside risk) seperti peningkatan ketegangan geopolitik, periode stagflasi yang berkepanjangan seperti di dekade 70an, tekanan pada kondisi finansial akibat tingginya biaya pinjaman serta keamanan pangan (food security) yanag memburuk.
Sementara itu Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan global tahun ini menjadi 2.9% dari proyeksi 4.1% yang di publikasikan bulan Januari lalu. Bank Dunia juga tidak melihat terjadinya rebound dengan memproyeksikan ekonomi global tumbuhan 3% di tahun 2023.
Dari sisi makroekonomi, investor mencerna perhitungan final data pertumbuhan ekonomi (PDB) 1Q22 Jepang yang ternyata hanya kontraksi 0.5%, lebih baik dari perhitungan awal yang mencatatkan kontraksi 1%. Revisi ini di dorong oleh ketahanan Konsumsi di tengah lonjakan kasus penularan virus COVID-19, terlihat dari Belanja Rumah Tangga yang masih tumbuh positif.
Belanja Pemerintah mencatatkan rebound sementara investasi swasta mengalami penurunan, refleksi dari gangguan pada rantai pasok global akibat perang di Ukraina.
Ekspsor bersih (Net Export) juga memberikan kontribusi negatif pada PDB di tengah membengkaknya impor akibat pelemahan nilai tukar mata uang JPY dan lonjakan harga komoditas.
Untuk hari ini, investor menunggu keputusan suku bunga acuan oleh bank sentral India (Reserve Bank of India). Di dalam negeri, Phillip Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguat ke 7.200. Berikut saham unggulannya.
Related News
Perlahan Bangkit, Indeks Bakal Uji 7.119-7.224
Sempat Anjlok, IHSG Berhasil Bangkit di Akhir Perdagangan
IHSG Sesi Siang (4/5) Konsisten Naik 0,17 Persen ke 6.968
KISI Challenge: Step Higher Dimulai, Ajang Trading Paling Sultan
Pupuk Dunia Langka, Indonesia Justru Turunkan Harga 20 Persen
Siap-Siap! Indonesia Mau Pangkas Impor Bensin 8 Juta KL





