EmitenNews.com - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita (Menperin) mengemukakan, industri logam dasar merupakan salah satu sektor unggulan yang menjadi penggerak utama pada pertumbuhan industri pengolahan nasional, dengan capaian kontribusi sebesar 10,86 persen (y-on-y) pada triwulan III tahun 2023. Sumbangsih yang signifikan tersebut seiring adanya peningkatan permintaan ekspor untuk produk logam dasar.


“Selama triwulan III-2023, pertumbuhan ekspor produk industri logam mengalami ekspansi sebesar 1,72 persen (y-on-y), dan pertumbuhan impor produk industri logam mengalami penurunan atau kontraksi sebesar 24,97 persen (y-on-y), sehingga neraca perdagangan industri logam dasar mengalami surplus sebesar USD5,6 miliar,” katanya di Bangka Belitung, Kamis (7/12).


Selain itu, kinerja yang gemilang juga ditorehkan oleh subsektor industri logam dasar melalui realisasi investasi yang tumbuh sebesar 9,50 persen.


Agus menjelaskan, pertumbuhan subsektor industri logam dasar sejalan dengan capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada November 2023 yang menunjukan indikasi ekspansi, yaitu pada level 52,43 atau meningkat 1,73 poin dibandingkan Oktober 2023. “Subsektor industri logam dasar dengan KBLI 24 juga masih berada pada level ekspansi,” ujarnya.


Sedangkan, hasil Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga tercatat positif, yakni berada di level 51,7 pada November 2023. Ini menandakan bahwa prestasi ekspansi terjadi selama 27 bulan berturut-turutm yang juga menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan industri sudah pada jalur yang benar dan kepercayaan diri dari para pelaku industri masih tinggi atau optimistis.


“Kabar baik dari sektor industri ini, juga turut andil karena adanya pembangunan industri smelter seiring dengan program hilirisasi yang diharapkan dapat memberikan penyediaan bahan baku yang beragam serta dalam jumlah yang cukup. Sehingga dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan sektor industri lainnya,” papar Menperin.


Guna semakin meningkatkan kinerja industri manufaktur di tanah air, Agus menegaskan, pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan dan inisiatif untuk menarik investasi dalam upaya mengakselerasi pendirian industri baru dan perluasan industri yang sudah ada. “Contohnya, jumlah perusahaan industri logam dasar terus menunjukkan peningkatan,” imbuhnya.


Adanya peningkatan investasi memberikan dampak positif terhadap penambahan jumlah penyerapan tenaga kerja. “Salah satu di antaranya adalah pertumbuhan industri smelter yang ada di Maluku Utara, Sulawesi tengah, Sulawesi Tenggara, dan beberapa lokasi lainnya, termasuk di Kepulauan Bangka Belitung yang akan turut menyumbang dalam peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja lokal ke depannya,” pungkas Agus.(*)