Pada Jumat 12 Februari 2021 masyarakat Tiongkok memasuki tahun baru Imlek 2572 Kongzili. Berdasarkan kalender China tahun ini adalah tahun Kerbau Logam shio kedua dalam perhitungan China. Beberapa pakar fengsui mengeluarkan berbagai prediksi terkait tahun Kerbau Logam ini. Penulis mencoba menterjemahkan prediksi tersebut secara logika ekonomi dan keuangan untuk menangkap peluang investasi di tahun Kerbau logam ini.
Perhitungan Hongshui mengatakan bahwa pada tahun ini unsur yang kuat akan mengatur yang lemah. Unsur kuat seringkali di wakili pemerintah sedangkan yang lebih lemah ada swasta. Bila dikaitkan dengan kondisi saat ini maka logikanya adalah sebagai berikut. Pandemi covid 19 yang terjadi di seluruh dunia benar-benar mengganggu perekonomian dunia. Sejujurnya lebih banyak sektor swasta yang terpukul pandemi sehingga banyak pebisnis mengalami kerugian bahkan harus menutup bisnis.
Pada periode seperti ini untuk membawa ekonomi keluar dari krisis dan membangkitkan sektor swasta yang terpukul akibat pandemi corona baru perlu dilakukan belanja pemerintah yang besar dan agresif. Ide ini dikemukakan John Maynard Keynes seorang ekonom asal Inggris yang percaya pada pentingnya permintaan agregat sebagai faktor utama penggerak ekonomi. Pemerintah perlu campur tangan ketika ekonomi mengalami krisis seperti saat ini dengan kebijakan fiskal selain kebijakan moneter.
Stimulus fiskal bisa pemerintah lakukan lewat pemotongan pajak, subsidi, pembayaran tunai, mempermudah perijinan sampai meningkatkan belanja pemerintah. Oleh karena itu tahun kerbau logam diyakini akan ditandai dominasi pemerintah membantu perekonomian untuk membangkitkan sebagian sektor swasta yang terpuruk akibat pandemi Covid 19. Keputusan pemerintah dalam vaksin, kebijakan fiskal akan sangat menentukan arah ekonomi tahun ini.
Unsur logam di tahun kerbau logam menyebabkan sektor yang terkait konstruksi dan pertambangan cenderung akan menguat. Karena belanja pemerintah sangat diandalkan tahun ini maka sektor konstruksi pelat merah atau BUMN cenderung mendapatkan keuntungan. Langkah pemerintah melanjutkan pembangunan infrastruktur yang sempat melambat selama periode pandemi covid 19 berpotensi menguntungkan bagi saham seperti Wijaya Karya (WIKA), Waskita Karya (WSKT), PT Pembangunan Perumahan (PTPP), Adhi Karya (ADHI), dan Wijaya Karya Beton (WTON).
Sektor lain yang di prediksi bersinar di tahun kerbau logam adalah tambang. Sektor tambang sangat tergantung pada harga komoditas di dunia. Tahun ini diperkirakan harga komoditas mungkin akan memasuki siklus super (supercycle). Supercycle komoditas hadir didukung proses pemulihan ekonomi pasca pandemi covid 19 yang memicu kenaikan permintaan dan akhirnya meningkatkan harga komoditas. Stimulus fiskal AS dan pengeluraan pemerintah AS yang besar meningkatkan supply Dolar AS dan berpotensi menekan nilai tukar AS. Pelemahan dollar cenderung positif bagi komoditas yang harganya dihitung dalam dollar.
Hal ini akan meningkatkan demand akibat harga yang dianggap lebih murah oleh banyak negara. Selain itu belanja pemerintah juga menaikan demand komoditas dan akhirnya menaikan harga komoditas itu sendiri.
Setelah satu dekade lebih pertumbuhan ekonomi rendah dan inflasi rendah sehingga komoditas yang siklikal berkinerja buruk. Seiring dengan diberikan ijin darurat vaksin covid 19 dan potensi berlalunya pandemic covid 19 diperkirakan mendorong pemulihan ekonomi yang cepat. Pemulihan ekonomi berpotensi mendorong permintaan komoditas yang akhirnya mendorong harga komoditas naik.
Siklus terakhir supercycle harga komoditas didorong oleh kebangkitan ekonomi China dimulai pada tahun 1996 dan mencapai puncaknya pada tahun 2008. Sesudah periode itu grand supercycle kenaikan komoditas berakhir di tahun 2012. Saat ini setelah satu dekade diperkirakan komoditas akan kembali bangkit seiring pemulihan ekonomi pasca pandemi covid 19.
Saham pertambangan yang berunsur logam seperti Aneka Tambang (ANTM), INCO, Timah (TINS) diperkirakan menguat. Saham-saham ini mendapat sentimen positif dari proyek baterai dan kendaraan listrik. Lalu ada saham Krakatau Steel (KRAS) juga berpotensi naik. Saham bank yang unsur logam juga mendapatkan sentimen positif di tahun ini. Dulu uang berbentuk koin yang dibuat dari logam sehingga saham bank berunsur logam. Saham bank besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Bank Mandiri (BMRI) menjadi pilihan sektor ini.
Related News
Pupuk Indonesia Masuk Pasar Australia, Total Ekspor Rp7 Triliun
Semula Account Officer, Kini Kindaris jadi Bos Baru PNM
Dolar AS Menguat, Kemendag Pangkas HPE dan HR Emas
Indeks Kospi Sudah Dekati 8.000, Ada Potensi Tembus 10.000
Saham-saham Teknologi Dorong S&P 500 dan Nasdaq ke Rekor Baru
Kabar Baik, Presiden Turunkan Bunga Kredit Orang Miskin jadi 8 Persen





