EmitenNews.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam fase volatil pada perdagangan hari ini, meski sejumlah indikator teknikal mulai menunjukkan peluang terjadinya pembalikan arah jangka pendek setelah tekanan jual yang sangat besar dalam beberapa waktu terakhir.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menilai IHSG berpotensi mengalami pelemahan yang terbatas atau limited downside setelah sebelumnya membentuk pola hammer candle pada grafik harian.

Secara teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) telah memasuki area extremely oversold atau jenuh jual ekstrem, meskipun downtrend masih berlangsung. Sementara itu, indikator Stochastic K-D mulai memberikan sinyal positif meski didukung volume transaksi yang masih cenderung menurun.

"IHSG berpotensi mengalami limited downside mengingat kondisi RSI yang sudah extremely oversold meskipun tren pelemahan masih berlangsung," tulis Nafan dalam riset hariannya.

Mirae Asset memproyeksikan area support IHSG berada di level 5.733 dan 5.602, sementara area resistance diperkirakan berada pada level 5.944 hingga 6.075.

Di sisi lain, sentimen pasar masih dibayangi memburuknya persepsi risiko domestik. Tekanan pada pasar keuangan nasional dalam beberapa sesi terakhir terlihat dari derasnya foreign net sell yang mencapai Rp1,43 triliun pada perdagangan harian.

Secara akumulatif sejak yaer to date, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp67,06 triliun, seiring dengan pelemahan IHSG sebesar 32,46%.

Kondisi tersebut juga beriringan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level psikologis baru di kisaran Rp18.049 per dolar AS. Tekanan pada rupiah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan domestik serta mendorong perpindahan dana ke instrumen yang dinilai lebih defensif.

Pelaku pasar saat ini juga tengah menunggu sejumlah sentimen penting, terutama pengumuman MSCI terkait klasifikasi pasar Indonesia yang dijadwalkan pada 18 Juni 2026. Keputusan tersebut akan menentukan apakah Indonesia tetap berada pada kategori emerging market atau berpotensi turun menjadi frontier market.

“Selain itu, investor juga menanti dampak rebalancing indeks FTSE Russell yang efektif pada 22 Juni 2026, mengingat penyesuaian indeks global umumnya memicu pergeseran dana pasif asing,” ujar Nafan.