Prodia (PRDA) Rencanakan Stock Split 1:5, Harga Sekarang Segini
:
0
PT Prodia Widyahusada Tbk siapkan stock split 1:5.
EmitenNews.com - PT Prodia Widyahusada (PRDA/Prodia) merencanakan aksi korporasi pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5. Aksi korporasi ini ditujukan untuk memangkas harga perdagangan per lot saham agar lebih terjangkau, mendorong frekuensi serta volume transaksi, sekaligus memperluas basis investor ritel di Bursa Efek Indonesia.
Rencana ini didasari evaluasi Perseroan terhadap perkembangan jumlah investor dan pemegang saham, yang menunjukkan adanya peluang untuk meningkatkan partisipasi investor melalui nilai investasi awal yang lebih terjangkau.
Melalui stock split, jumlah saham beredar PRDA akan meningkat, sementara nilai total investasi dan persentase kepemilikan masing-masing pemegang saham tetap terjaga. Penyesuaian harga saham ini diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi investor, khususnya investor ritel, untuk berinvestasi di saham PRDA. Selain meningkatkan keterjangkauan, aksi korporasi ini juga diharapkan dapat memperkuat daya tarik saham Perseroan dan mendukung peningkatan aktivitas perdagangan di pasar modal.
Melalui skema 1:5 ini, nilai nominal saham emiten penyedia layanan kesehatan tersebut akan berubah dari Rp100 per saham menjadi Rp20 per saham. Dampaknya, total modal ditempatkan dan disetor Perseroan yang semula berjumlah 937.500.000 lembar saham akan bertambah menjadi 4.687.500.000 lembar saham. Manajemen menegaskan bahwa penyesuaian nilai nominal ini bersifat netral terhadap struktur modal—tidak mengubah nilai total investasi maupun persentase kepemilikan pemegang saham.
Agenda RUPSLB dan Jadwal Perdagangan Nominal Baru
Melalui Keterbukaan Informasi kepada Pemegang Saham dalam Rangka Rencana Pemecahan Saham (Stock Split), Perseroan berencana meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselenggarakan pada 23 November 2026. Pemegang saham yang berhak menghadiri RUPSLB adalah mereka yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada 29 Oktober 2026.
Setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB dan izin pencatatan saham dari BEI, perdagangan saham dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan berakhir pada 17 Desember 2026. Saham hasil stock split dengan nominal baru Rp20 akan mulai diperdagangkan secara resmi di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 18 Desember 2026.
Kas Rp646 Miliar, Penopang Fundamental PRDA
Rencana pemecahan nilai saham ini ditopang oleh fundamental keuangan yang tebal. Pada paruh pertama 2026, PRDA berhasil membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp1,11 triliun pada semester I-2026, naik 8,50% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu dan mencatatkan rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir. Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong laba bersih tahun berjalan sebesar 11,45% YoY menjadi Rp77,57 miliar.
Kekuatan neraca Perseroan juga tercermin dari kepemilikan kas dan deposito yang mencapai Rp646,13 miliar per 30 Juni 2026. Dengan total liabilitas sebesar Rp301,00 miliar berbanding ekuitas tebal Rp2,34 triliun, rasio utang terhadap ekuitas (Debt-to-Equity Ratio/DER) PRDA berada di level sangat rendah, yakni 0,12x.
Kualitas kinerja ini diperkuat oleh arus kas bersih dari aktivitas operasi (CFO) yang naik 18,23% YoY menjadi Rp199,99 miliar—mencapai 2,58 kali lipat dari perolehan laba bersih akuntansi Perseroan. Kondisi ini mencerminkan struktur permodalan PRDA yang solid untuk mendukung keberlanjutan bisnis dan pertumbuhan ke depan.
Dari sisi operasional, pertumbuhan PRDA didukung oleh kontribusi positif dari seluruh segmen pelanggan, dengan hampir 10 juta tes dilayani sepanjang semester I-2026. Pertumbuhan tes esoterik yang lebih tinggi turut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap pemeriksaan yang lebih spesifik dan canggih.
Sementara itu, layanan tes rutin, vaksinasi, dan konsultasi dokter melengkapi portofolio layanan Prodia, seiring penguatan kapabilitas digital dalam mendukung akselerasi transformasi menuju health-tech.
Kombinasi diversifikasi layanan, jangkauan pelanggan yang luas, dan pengembangan kapabilitas digital teknologi menjadi pendorong yang dapat mendukung daya saing serta prospek bisnis PRDA ke depan.
Buyback Berjalan di Tengah Fluktuasi Pasar, Valuasi PRDA Jadi Sorotan
Selain merencanakan stock split, PRDA menjalankan program buyback dengan dana maksimal Rp150 miliar pada periode 20 Agustus–19 November 2026. Berdasarkan Keterbukaan Informasi pada 19 Agustus 2026, aksi ini dilakukan sebagai respons terhadap kondisi pasar yang berfluktuasi sekaligus untuk mendukung stabilitas harga saham Perseroan.
Dari sisi valuasi, dengan merujuk pada data pasar dan laporan keuangan Kuartal II menunjukkan rasio Price-to-Earnings (P/E) PRDA sekitar 14,45 kali dan Price-to-Book Value (PBV) sebesar 1,33 kali.
Sementara itu, imbal hasil atas modal yang diinvestasikan (Return on Invested Capital/ROIC) tercatat 8,2% dengan imbal hasil dividen (dividend yield) sebesar 6,25%. EBITDA tercatat sekitar Rp216,3 miliar.
Indikator tersebut dapat menjadi bahan evaluasi investor dalam menilai valuasi pasar, profitabilitas, dan potensi pendapatan dividen PRDA, dengan tetap mempertimbangkan pertumbuhan bisnis serta risiko investasi.
Related News
Kopra Mobile Dukung Mobilitas Bisnis Nasabah yang Kian Dinamis
Martha Tilaar, Founder Emiten Lulur & Kosmetik (MBTO) Tutup Usia
Low Tuck Kwong Borong Lagi Saham BYAN
Pengendali BYAN Beli Saham Sendiri Rp1,12 Triliun pada 14 Oktober 2026
Proyek CA-EDC Capai Progres 80 Persen, TPIA Target Operasi di 2027
Sabar Menanti Dividen ASGR, Tunggu Restu RUPSLB November





