Profitabilitas Stabil, Bank Neo Perkuat Pertumbuhan Berkelanjutan
:
0
Suasana pelayanan di kantor Bank Neo. Foto - Dok BBYB
EmitenNews.com - Bank Neo Commerce alias BNC (BBYB), salah satu pelopor bank dengan layanan digital, berhasil membukukan laba bersih setelah pajak alias Profit After Tax (PAT) Rp430,98 miliar hingga September 2026. Pencapaian laba bersih itu, melanjutkan tren positif telah BNC lakukan sejak beberapa tahun terakhir. Itu mencerminkan kemampuan dalam menghasilkan profitabilitas, sekaligus menunjukkan strategi penguatan fundamental bisnis berkelanjutan, dan terus memberi hasil makin solid.
Capaian laba tersebut didukung peningkatan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) secara konsisten menunjukkan tren positif sepanjang 2026, perbaikan efisiensi operasional, pengelolaan kualitas aset, dan risiko makin terukur. Tren positif ini menjadi indikasi BNC berada pada jalur tepat dalam membangun bisnis retail banking makin tangguh, dan berkelanjutan.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bank Neo Commerce, Adrian Soewardjo, mengatakan kinerja hingga Kuartal III 2026 merupakan kelanjutan dari strategi perseroan untuk memperkuat fundamental bisnis sebelum memasuki fase pertumbuhan berikutnya. Stabilitas raihan laba hingga akhir kuartal III 2026 itu, merupakan pencapaian yang menggembirakan bagi BNC.
”Namun, bagi kami, hal lebih penting bagaimana capaian itu didukung kualitas fundamental bisnis makin baik. Kami terus mempertahankan profitabilitas, meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas aset, dan memastikan setiap langkah pengembangan bisnis dilakukan secara terukur, dan dengan prinsip kehati-hatian. Kami percaya fondasi makin kuat akan memberi kemampuan bagi BNC untuk tumbuh secara lebih sehat, dan berkelanjutan ke depan," jelas Adrian.
Nah, dari sisi pendapatan, BNC mencatatkan pendapatan bunga bersih Rp1,69 triliun. Menariknya, NII menunjukkan tren peningkatan secara berurutan selama tiga kuartal pertama 2026. Pada Kuartal I 2026, NII tercatat Rp548,14 miliar, kemudian selama kuartal II 2026 meningkat menjadi Rp562,55 miliar, dan kembali meningkat menjadi Rp576,04 miliar pada Kuartal III 2026. Tren ini menunjukkan kemampuan perseroan dalam upaya meningkatkan pertumbuhan, dan kontribusi dari segmen Retail sekaligus tetap menjaga efisiensi biaya dana (COF).
Selain pendapatan bunga, pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) juga mengalami peningkatan. Hingga September 2026, BNC membukukan Fee Based Income Rp90,55 miliar, meningkat 5,67 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp85,69 miliar. Peningkatan ini mencerminkan upaya perseroan untuk terus mengembangkan sumber pendapatan non-bunga melalui optimalisasi produk, dan layanan perbankan makin relevan dengan kebutuhan nasabah. Lalu, dari sisi neraca, BNC mencatat total aset Rp17,19 triliun per September 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp11,86 triliun.
CASA Perseroan mengalami peningkatan tipis 1,33 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya menjadi Rp3,92 triliun, dengan CASA Ratio meningkat dari 28,40 persen menjadi 33,05 persen. Itu mencerminkan upaya memperkuat proposisi produk dan memperluas kapabilitas layanan transaksional untuk meningkatkan customer stickiness, mendorong pertumbuhan fee based income, dan mengoptimalkan pengelolaan COF.
Sementara itu, total kredit disalurkan tercatat Rp6,73 triliun. Sejalan dengan strategi telah dijalankan sejak awal 2026, BNC tetap mengedepankan pendekatan penyaluran kredit lebih selektif dengan berfokus pada kualitas debitur, profil risiko, serta potensi imbal hasil berkelanjutan. Optimalisasi portofolio tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memastikan bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume, tetapi juga pada kualitas dan keberlanjutan aset produktif.
Adrian menambahkan, BNC akan terus menjaga keseimbangan antara pencapaian profitabilitas, efisiensi operasional, dan kualitas pertumbuhan bisnis. "Strategi pertumbuhan yang kami jalankan saat ini bukan semata-mata mengejar peningkatan skala bisnis, melainkan memastikan setiap aktivitas usaha memberikan kontribusi sehat bagi. Kami melihat disiplin dalam pengelolaan portofolio kredit, penguatan proses operasional, serta pengembangan sumber pendapatan makin beragam merupakan elemen penting untuk membangun bisnis lebih tangguh. Dengan pendekatan itu, kami ingin memastikan setiap pertumbuhan yang dicapai BNC memiliki kualitas baik, dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang," ungkap Adrian.
Dari sisi efisiensi, BNC terus menunjukkan perbaikan dalam pengelolaan biaya operasional. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) membaik menjadi 81,77 persen pada September 2026, dibandingkan 82,81 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Cost to Income Ratio (CIR) juga membaik menjadi 31,45 persen dari sebelumnya 31,59 persen. Perbaikan kedua indikator ini mencerminkan upaya Perseroan dalam mengoptimalkan produktivitas operasional dan menjaga efektivitas pengelolaan biaya.
Related News
Sambut Akhir Tahun, MIDI Bagi Dividen Rp127 Miliar di Desember!
Seteru Abadi, ini Kinerja ACES vs MDIY Kuartal III
Bikin Gusar Malaysia, Emiten Peter Sondakh Jadwal Dividen Interim
Cicilan Piutang dan Kredit Jadi Andalan Indomobil Lunasi Obligasi
Kuartal III, Laba MBAP Melangit 3.281 Persen
Adira Finance (ADMF) Lunasi Efek Utang Rp1,3 Triliun





