EmitenNews.com - Sebanyak 18 saham Indonesia tercatat keluar dari indeks global MSCI dalam hasil evaluasi rebalancing periode Mei 2026 yang akan efektif berlaku mulai 1 September 2026. Dari jumlah tersebut, enam saham terdepak dari MSCI Global Standard Index, sementara 12 saham lainnya keluar dari MSCI Global Small Cap Index.

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi salah satu emiten yang keluar dari MSCI Global Standard Index bersama sejumlah saham besar lainnya seperti TPIA, CUAN, AMMN, DSSA, dan AMRT. Khusus AMRT, saham emiten ritel tersebut akan masuk ke kategori MSCI Global Small Cap Index.

Meski tersingkir dari indeks MSCI, prospek saham BREN justru masih mendapat pandangan positif dari pelaku pasar. PT Henan Putihrai Sekuritas (Henan Sekuritas) merekomendasikan buy untuk saham emiten energi terbarukan milik Grup Barito itu dengan target harga (target price/TP) di level Rp3.890 per saham.

Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan (upside) sekitar 63,4% dibandingkan harga penutupan perdagangan 25 Mei 2026 di level Rp2.380 per saham.

Dalam laporan riset bertajuk “BREN: Indonesia's Largest Geothermal Player”, tim riset Henan Sekuritas menilai BREN memiliki fondasi bisnis yang kuat, didukung prospek ekspansi kapasitas yang agresif, kualitas aset panas bumi unggulan, serta posisi strategis dalam transisi energi nasional.

“Target price kami didasarkan pada prospek pertumbuhan kapasitas yang signifikan, proyeksi pertumbuhan laba yang kuat, tingginya kualitas aset panas bumi dan posisi strategis BREN dalam transisi energi Indonesia,” tulis tim riset Henan Sekuritas.

Henan Sekuritas menyoroti posisi dominan BREN sebagai pemain panas bumi terbesar di Indonesia. Saat ini Perseroan mengoperasikan kapasitas panas bumi sebesar 910 MW di Jawa Barat, atau setara sekitar 38% pangsa pasar panas bumi nasional.

Melalui proyek ekspansi dan optimalisasi aset, kapasitas terpasang BREN pada 2025 diproyeksikan meningkat menjadi 989 MW. Dalam jangka panjang, Perseroan membidik kapasitas hingga 2,3 GW sampai 2,8 GW pada 2032 melalui pengembangan proyek panas bumi baru dan ekspansi energi angin.

Selain itu, model bisnis BREN dinilai defensif karena ditopang kontrak jangka panjang dengan PT PLN (Persero). Karakter pembangkit baseload, faktor kapasitas tinggi, serta struktur tarif yang diatur dinilai mampu menjaga stabilitas pendapatan Perseroan di berbagai kondisi ekonomi.

Fundamental Kuat