EmitenNews.com - Pendiri Bridgewater Associates yang juga penasihat Danantara, Ray Dalio, menilai Bitcoin belum memenuhi harapan sebagai aset safe-haven yang sebanding dengan emas. Hal iti diungkapkan dalam postingannya di akun X yang menarik perhatian luas.

Dalio menyebutkan privasi yang terbatas sebagai salah satu alasannya. Ia menulis bahwa transaksi Bitcoin dapat dilacak dan berpotensi dikendalikan, itulah sebabnya bank sentral tidak mengadopsinya sebagai aset cadangan.

"Meskipun Bitcoin mendapat banyak perhatian, ia belum memainkan peran sebagai aset safe-haven seperti yang diharapkan banyak orang," kata Ray yang suaranya banyak didengar Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa bitcoin belum bisa dianggap sebagai aset aman. Pertama, Bitcoin kurang memiliki privasi. Transaksi dapat dipantau dan berpotensi dikendalikan, itulah sebabnya bank sentral tidak ingin memegangnya.

"Kedua, Bitcoin juga memiliki korelasi tinggi dengan saham teknologi. Ketika investor mengalami tekanan di area lain dalam portofolio mereka, mereka menjual Bitcoin mereka untuk menutupi kerugian tersebut," jelasnya.

Ketiga, pasar Bitcoin relatif kecil dan mudah dikendalikan, sedangkan emas berdiri sendiri. Hanya ada satu emas. Pada akhirnya, emas lebih banyak dimiliki, lebih mapan, dan masih memainkan peran sentral dalam sistem global.

Pendapat ini mendapat tanggapan dari pendiri lembaga kajian Strategy, Michael Saylor. Saylor berpendapat bitcoin tidak bisa diperbandingkan dengan emas.

"Emas adalah modal analog. Bitcoin merupakan modal digital. Transparansi merupakan sebuah fitur, bukan suatu bug. Hal ini membuat $BTC cocok digunakan sebagai jaminan tinggi," tegasnya.

Saylor menjelaskan sejak pihaknya mengadopsi Standar Bitcoin pada Agustus 2020, bitcoin telah mengungguli emas dengan rasio Sharpe yang lebih tinggi.(*)