EmitenNews.com -Menghadapi tantangan industri baja domestik yang masih fluktuatif, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) atau Latinusa menyiapkan serangkaian strategi mitigasi untuk menjaga stabilitas kinerja sepanjang tahun 2026. Fokus utama perseroan kini tertuju pada efisiensi biaya dan keunggulan kompetitif di tengah derasnya produk impor.

Direktur Utama Latinusa, Jetrinaldi, mengungkapkan bahwa tekanan dari produk impor asal China dan Korea Selatan masih menjadi tantangan utama yang menekan harga pasar. Namun, perseroan tidak tinggal diam.

"Kami melakukan optimalisasi biaya dari hulu hingga hilir, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga pengendalian beban keuangan dan risiko nilai tukar," jelas Jetrinaldi dalam paparan publik, Rabu (8/4).

Langkah ini terbukti membuahkan hasil. Kinerja kuartal I-2026 dilaporkan menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menariknya, NIKL melihat adanya "berkah" di balik ketegangan geopolitik global. Konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga plastik dan biaya logistik internasional. Kondisi ini secara tidak langsung menguntungkan Latinusa:

Substitusi Produk: Harga plastik yang mahal membuat tinplate kembali dilirik sebagai kemasan alternatif yang kompetitif.

Hambatan Logistik: Tingginya ongkos angkut global memperlemah daya saing harga produk impor di pasar lokal.

Latinusa mencatat adanya pergeseran menarik pada kontribusi penjualan. Segmen susu (milk) mengalami kenaikan kontribusi dari 25,51% menjadi 27,59%, didorong oleh pulihan konsumsi susu siap minum (ready-to-drink). Sebaliknya, segmen dry food mengalami penurunan akibat perubahan perilaku konsumen yang mulai meninggalkan kemasan kaleng besar.

Mengingat struktur biaya bahan baku yang didominasi impor, manajemen menerapkan strategi ketat pada dua lini, yaitu lindung nilai (Hedging) yaitu mengelola risiko kurs secara disiplin untuk menekan kerugian selisih kurs, dan advokasi kebijakan untuk mendorong pemerintah memperketat pengawasan terhadap praktik impor yang tidak sehat (unfair trade).

Meskipun manajemen masih bersikap konservatif terkait target angka pendapatan dan laba, optimisme tetap terjaga. Dengan permintaan tinplate nasional yang diprediksi stabil di level 200 ribu ton, NIKL yakin strategi efisiensi dan mitigasi risiko yang mereka jalankan akan membuat rapor 2026 lebih hijau dibanding tahun sebelumnya.