EmitenNews.com -PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO) berhasil membukukan pemulihan kinerja keuangan yang solid pada kuartal ketiga tahun 2026 (3Q 2026). Emiten penyedia jasa kontraktor pertambangan dan konstruksi terintegrasi ini mencatatkan kenaikan pendapatan usaha yang signifikan serta laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang melonjak hingga Rp74,8 miliar pada periode tersebut.

Pertumbuhan kinerja perseroan ditopang oleh ekspansi volume operasional hauling dan train loading, serta akselerasi pengerjaan proyek konstruksi pendukung. Secara kumulatif selama sembilan bulan pertama (9M 2026), pendapatan usaha RMKO melesat 57,4% secara year-on-year (YoY) mencapai Rp345,3 miliar. Pencapaian ini didorong oleh kontribusi positif dari seluruh segmen bisnis perusahaan yang mengalami pertumbuhan berkesinambungan.

Segmen konstruksi menjadi motor utama pertumbuhan dengan lonjakan pendapatan sebesar 130,9% YoY menjadi Rp143,7 miliar, atau menyumbang 41,6% dari total pendapatan perusahaan. Lonjakan ini didorong oleh progres pembangunan fasilitas pendukung grup di Sumatera Selatan. Sementara itu, segmen jasa pertambangan dan jasa rental masing-masing menyumbang Rp102,8 miliar (29,8%) dan Rp98,8 miliar (28,6%) terhadap total pendapatan usaha.

Dari sisi operasional, peningkatkan kinerja tefleksi langsung pada volume produksi. Volume hauling pada kuartal III-2026 meroket 138,5% YoY menjadi 578,7 ribu ton, sehingga secara kumulatif mencapai 1,1 juta ton atau naik 122,4% YoY. Pada saat yang sama, volume train loading hingga 9M 2026 mencapai 2,3 juta ton, melonjak 155,9% YoY dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan volume dan pendapatan tersebut sukses membawa profitabilitas perusahaan berbalik positif (turnaround). Pada 9M 2026, EBITDA perseroan tercatat sebesar Rp59,4 miliar dengan margin 17,2%, berbalik dari kondisi negatif Rp9,3 miliar pada 9M 2025. Perusahaan juga berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp1,2 miliar, setelah sebelumnya menanggung rugi bersih sebesar Rp51,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Selain membaiknya kinerja operasional, neraca keuangan RMKO menunjukkan penguatan yang kian solid. Hingga kuartal III-2026, total aset naik 10,6% menjadi Rp616,2 miliar dibanding akhir tahun 2025. Di sisi lain, total liabilitas berhasil ditekan turun 14,2% menjadi Rp325,1 miliar, diikuti penurunan utang finansial hingga 40,6% menjadi Rp56,7 miliar. Dampaknya, rasio utang terhadap ekuitas (Debt-to-Equity Ratio/DER) membaik drastis dari 0,54x menjadi 0,19x, berada jauh di bawah batas covenant kredit maksimum sebesar 2,5x.

Struktur modal dan likuiditas perseroan kian kokoh pasca pelaksanaan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I) atau rights issue yang rampung pada 21 Juli 2026 lalu. Aksi korporasi ini berhasil menghimpun dana sebesar Rp114,3 miliar dari penerbitan 326,71 juta saham baru. Pemegang saham utama, PT RMK Investama, menyerap haknya senilai Rp108,0 miliar, sementara investor publik berpartisipasi sebesar Rp6,3 miliar untuk memperkuat modal kerja operasional RMKO.

Direktur Operasional RMKO, Daniel Yosa, mengungkapkan dalam konferensi pers bahwa kunci utama pemulihan kinerja perseroan adalah penambahan kemitraan dengan tambang pihak ketiga. Sepanjang tahun 2026, RMKO telah melayani enam mitra tambang strategis, yaitu Duta Bara Utama, Cakrawala Pratama Manunggal, Sahala Bara Lestari, Ulima Nitra, Sinar Wijaya Energi, dan Tiga Putri Bersaudara. "Kami akan terus mendukung implementasi investasi grup pada hauling road ini dengan menambah konektivitas ke tambang-tambang potensial serta meningkatkan kekuatan jalan menggunakan chip seal untuk mendukung fase pertumbuhan volume berikutnya," terang Daniel.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Keuangan RMKO, Elbert, menambahkan bahwa model bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir memungkinkan perseroan menciptakan sumber pendapatan berurutan dari volume batubara yang sama. Ia menjelaskan bahwa volume dari tambang pihak ketiga yang perjanjiannya berada di bawah RMKE tetap tercatat sebagai pendapatan berelasi, meski basis volumenya murni berasal dari pihak ketiga. "Kami berharap pertumbuhan berlanjut seiring perluasan tambang yang dilayani, dengan dukungan kejelasan RKAB dan kebijakan ekspor," pungkas Elbert.