Rupiah Goyang, Analis Bandingkan dengan Krisis 1998-2020 hingga Kini
:
0
Ilustrasi pelemahan rupiah dolar AS.
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS dinilai belum masuk kategori krisis nilai tukar (currency crash), namun jadi sinyal bagi otoritas untuk meningkatkan kewaspadaan.
Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (21/6/2026) menyebut tekanan eksternal saat ini menuntut kedisiplinan kebijakan lebih tinggi.
"Tekanan eksternal yang ada saat ini menuntut kedisiplinan kebijakan yang lebih tinggi dari biasanya, terutama dalam memperkuat bauran kebijakan moneter dan fiskal untuk menstabilkan pasar. Bukan berarti Indonesia telah masuk dalam krisis ekonomi, tapi lebih tepat dibaca sebagai alarm kewaspadaan," ujar Sandy.
NEXT Indonesia Center mengacu pada batasan currency crash versi ekonom Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff yakni, depresiasi tahunan 15% atau lebih.
“Jika parameter tersebut disandingkan dengan pergerakan rupiah saat ini, laju depresiasi tahunan kumulatif hingga Juni 2026 tercatat di kisaran 11%. Secara teknis, pelemahan rupiah sepanjang tahun 2026 belum masuk ke dalam kategori krisis nilai tukar atau currency crash,” ungkap Sandy Pramuji.
Meski begitu, ia mengingatkan jarak ke ambang krisis tidak terlalu lebar. Risiko membesar bila arus modal keluar atau persepsi terhadap ekonomi domestik memburuk.
Sandy memaparkan, dalam 40 tahun terakhir rupiah pernah mengalami currency crash pada 1987, 1997-1998, 2000-2001, 2008-2009, 2013-2015, dan 2020.
“Menariknya, sejarah menunjukkan bahwa tidak semua episode kejatuhan kurs tersebut secara otomatis menjalar menjadi krisis ekonomi makro yang sistemik,” kata Sandy Pramuji.
Pengecualian terjadi pada 1997-1998. Kala itu pelemahan rupiah berbarengan dengan krisis perbankan, inflasi melonjak, beban utang valas swasta, dan kontraksi ekonomi.
“Pada Juni 1998, depresiasi rupiah sempat melonjak hingga 508% yoy, sementara pertumbuhan ekonomi jatuh ke -13,3% yoy. Kontraksi kemudian makin dalam pada September 1998, yakni menjadi -16,0% dan Desember 1998 sebesar -18,3%,” jelas Sandy.
Related News
Tekanan Kuartal IV Tidak Ringan, Telisik Pemicunya
Hingga Rp283 Miliar, Singapura Naikkan Denda 900% Penyebab Kabut Asap
OJK Umumkan Sanksi Terbaru Tiga Kasus Pasar Modal, Ini Rinciannya
Hasil Pemilu AS Tekan Dolar, Rupiah Pagi ini Menguat 0,14%
Dolar AS Anjlok ke 101,5, Amunisi Bagi Rupiah Untuk Bangkit
Yield Obligasi AS 10 Tahun Turun ke 4,9% Investor Berburu Safe Haven





