EmitenNews.com - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Rabu (28/12) pagi pukul 10.08 ini bergerak menguat ke posisi Rp15.632 per dolar AS. Rupiah menguat 30 poin dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.662 per dolar AS.
Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra di Jakarta memperkirakan penguatan rupiah pagi ini tak lepas dari kabar pelonggaran kebijakan Covid-19 di China/
"Nilai tukar rupiah seharusnya bisa menguat dengan dukungan kabar baik dari China yang menghentikan kebijakan Zero-Covid," katanya.
China mengatakan akan membatalkan aturan karantina Covid-19 untuk pelancong yang masuk. Hal itu merupakan langkah besar dalam membuka kembali perbatasannya di tengah kasus COvid-19 yang melonjak. China akan berhenti mewajibkan pelancong yang tiba untuk melakukan karantina mulai 8 Januari, kata Komisi Kesehatan Nasional, Senin (26/12).
Pada saat yang sama Beijing menurunkan peraturan untuk menangani kasus COVID ke Kategori B yang lebih ringan dari Kategori A tingkat atas. "Tapi di sisi lain, kekhawatiran kebijakan suku bunga tinggi bakal menekan perekonomian bisa memberikan sentimen negatif ke rupiah," ujar Ariston.
Data yang dirilis pada akhir pekan lalu menunjukkan belanja konsumen AS hampir tidak naik pada November sementara inflasi semakin menurun, yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (Fed) dapat mengurangi pengetatan kebijakan moneter yang agresif.
Sebelumnya pejabat The Fed termasuk Ketua Jerome Powell menekankan bahwa pengetatan kebijakan akan diperpanjang, dengan suku bunga terminal yang lebih tinggi, yang memicu kekhawatiran perlambatan AS. Ariston memperkirakan hari ini rupiah berpotensi menguat ke arah Rp15.640 per dolar AS dengan potensi pelemahan Rp15.680 per dolar AS.(*)
Related News
Inilah Profil Jeffrey Hendrik, Pimpinan Sementara BEI
Permintaan Tinggi Angkat HPE Konsentrat Tembaga dan Emas
Dari 23 Subsektor Industri Pengolahan, 20 Di Fase Ekspansi
Bapanas Pastikan Ketersediaan Pangan Pokok Aman Hingga Maret
IKI Januari 2026 Catat Rekor Tertinggi Dalam 49 Bulan
Pemerintah Dan BI Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi 2026





