EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,22 persen menjadi 5.373. Secara teknikal, IHSG kembali ditutup di bawah level 5.400, namun masih bertahan di atas level MA5. Histogram negatif MACD berlanjut menyempit, dan Stochastic RSI bergerak di area pivot. Seo, IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.280-5.450.

Pelemahan Rupiah menjadi salah satu risiko utama bagi pasar keuangan domestik karena dapat meningkatkan tekanan inflasi impor, memperbesar beban utang valas perusahaan, dan membatasi ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Rupiah masih berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian global, menjelang FOMC meeting pekan ini.

Harga minyak masih di level tinggi, dan kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing. Jika Rupiah masih cenderung melemah, BI berpotensi menaikkan BI Rate pada rapat dewan gubernur (RDG) November mendatang. Sementara itu, Pemerintah menyiapkan stimulus transportasi untuk libur Natal dan Tahun Baru 2026-2027.

Yaitu, mulai dari diskon tiket kereta api dan kapal laut hingga potongan biaya jasa kepelabuhanan penyeberangan. Pemerintah juga menanggung 100 persen PPN tiket pesawat sesuai ketentuan berlaku. Kebijakan itu, untuk mengurangi beban biaya perjalanan masyarakat. Juga sekaligus mendorong mobilitas wisatawan, dan pertumbuhan pariwisata domestik selama libur akhir tahun.

Sebagai salah satu program stimulus Pemerintah, stimulus juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor mengoleksi saham Unilever Indonesia (UNVR), Bank Syariah Indonesia alias BSI (BRIS), Jasa Marga (JSMR), Pakuwon Jati (PWON), dan Semen Indonesia (SMGR). (*)