Saham GMFI Menuju Gocap, Laba Menanjak 23,54 Persen
:
0
Suasana di area bengkel pesawat besutan GMF AeroAsia. FOTO - Dok GMFI
EmitenNews.com - GMF AeroAsia (GMFI) medio 2026 mengemas laba bersih USD10,81 juta. Surplus 23,54 persen dari episode sama tahun lalu sejumlah USD8,75 juta. Dengan begitu, laba bersih per saham dasar dan dilusian turun menjadi USD0,0001 dari USD0,00024.
Pendapatan USD270,28 juta, melejit 51 persen dari periode sama tahun lalu USD178,95 juta. Beban pegawai USD64,65 juta, bertambah dari USD57,69 juta. Beban material USD116,65 juta, bengkak 129,85 persen dari USD50,75 juta. Beban subkontrak UsD41,03 juta, naik dari USD32,33 juta.
Beban penyusutan USD6,97 juta, menciut dari USD9,65 juta. Beban operasional USD13,37 juta, naik tipis dari USD13,13 juta. Penghasilan keuangan USD945,24 ribu, naik dari USD166,76 ribu. Beban keuangan USD8,27 juta, susut dari USD9,58 juta. Beban lain-lain USD8,68 juta, drop dari USD3,95 juta.
Jumlah ekuitas USD144,62 juta, melonjak dari akhir tahun sebelumnya USD114,56 juta. Defisit USD512,23 juta, berkurang dari USD523,05 juta. Total liabilitas USD681,87 juta, berkurang dari akhir 2025 senilai USD698,41 juta. Jumlah aset USD826,49 juta, melejit dari akhir tahun lalu USD812,98 juta.
Pada perdagangan kemarin, saham GMFI susut 1 poin atau 1,69 persen menjadi Rp58. Sejak awal tahun 2026, saham GMFI terpangkas 21,62 persen setara 16 poin dari edisi 2 Januari di level Rp74. GMFI dibekali kapitalisatie pasar Rp7,24 triliun, dengan price earning rasio 4,78 kali.
Hapus Harga Gocap
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghidupkan kembali transaksi short selling pada Selasa, 15 September 2026. Pada praktiknya, daftar efek bisa ditransaksikan via short selling akan diungkap pada 28 September 2026. Bersamaan dengan itu, BEI juga akan menghapus harga minimum (floor price) dari semula Rp50 per helai menjadi Rp1 per lembar tepat pada 28 September 2026.
”Kebijakan itu, menjadi bagian dari upaya pendalaman pasar. Pengeluaran dua kebijakan itu, sering disalahpahami, padahal untuk menggenjot likuiditas, dan price discovery lebih baik,” tegas Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik.
Jeffrey menjelaskan 3 tujuan utama di balik kebijakan penghapusan harga minimum Rp50 menjadi Rp1, dan penerapan kembali short selling. "Itu kebijakan kita lakukan, untuk memenuhi kebutuhan likuiditas investor, memberikan price discovery lebih baik, dan best practices bursa-bursa jumbo dunia," urai Jeffrey.
Jeffrey menepis kekhawatiran short selling akan menekan saham gocap hingga Rp1 tidak beralasan. Pasalnya, saham-saham barisan short selling dari kelompok LQ45. So, daftar efek short selling akan diterbitkan pada akhir bulan, dan efektif awal Oktober dengan jumlah terbatas tahap awal. ”Itu pun tidak semua LQ45. Nanti mungkin ada 5 atau 3 atau berapa nanti akan diterbitkan,” ucapnya. (*)
Related News
Investasi Perdana Sandiaga Uno Borong 9,51 Juta Saham MUTU Nyaris Rp1M
Ekuitas Minus, Rugi Beruntun, ini Nasib Right Issue Emiten Andry Hakim
Dibuang MSCI, Laba Emiten Semen ini Tumbuh 363 Persen
Aset Jumbo, Pendapatan INET Melangit Ribuan Persen
Ekuitas Meledak, Laba DOOH Melambung 954,95 Persen
Aset Tebal, Kuartal III SSMS Tuai Laba Jumbo





