Sempat Rontok 3 Persen, IHSG Sesi Siang Berkunjung Pulih di 7.039
Potret merahnya Indeks Komposit (IHSG).
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada perdagangan sesi pertama Senin (16/3/2026). Indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu turun 1,37 persen atau 98 poin ke level 7.039, setelah sempat terjerembap tajam pada awal perdagangan.
IHSG dibuka di posisi 7.137,21, namun kurang dari lima belas menit setelah perdagangan dimulai indeks anjlok hingga 3,08 persen dan menyentuh level terendah harian di 6.917,32. Meski sempat menembus level psikologis 7.000, indeks berhasil memangkas tekanan jual menjelang jeda siang.
Sepanjang sesi pertama, aktivitas perdagangan tercatat melibatkan 18,9 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp8,2 triliun dalam ratusan ribu kali transaksi. Dari total 819 saham yang diperdagangkan, sebanyak 537 saham melemah, 166 saham menguat, dan 116 saham stagnan.
Tekanan di pasar saham domestik juga terlihat dari pergerakan indeks sektoral. Hingga jeda siang, IDXPROPERTY turun 2,11 persen, diikuti IDXBASIC melemah 2,02 persen, IDXENERGY turun 1,75 persen, IDXTRANS terkoreksi 1,12 persen, IDXTECHNO melemah 0,80 persen, IDXNONCYC turun 0,73 persen, IDXFINANCE terkoreksi 0,58 persen, dan IDXINFRA melemah 0,55 persen.
Sementara itu, hanya beberapa sektor yang mampu bertahan di zona hijau, yakni IDXINDUSTRY naik 0,31 persen, IDXCYCLICAL menguat 0,09 persen, serta IDXHEALTH naik tipis 0,01 persen.
Pada jajaran saham penggerak pasar, beberapa emiten justru mencatat penguatan. Saham PT Emas Antam Indonesia Tbk (EMAS) melesat 11,36 persen ke level Rp8.575, disusul PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang naik 6,50 persen ke Rp1.800, serta PT Bank Neo Commerce Tbk (BBNI) yang menguat 2,35 persen ke Rp4.340.
Sebaliknya, sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat indeks. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) merosot 10,75 persen ke Rp705, diikuti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang turun 7,39 persen ke Rp61.975, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang terkoreksi 5,85 persen ke Rp4.660.
Secara tren, IHSG masih bergerak dalam fase bearish. Tekanan jual juga tercermin dari pergerakan indeks sejak awal tahun. Dari posisi 9.134,70 pada 20 Januari 2026, IHSG telah merosot ke 6.917,32 pada 16 Maret 2026, atau kehilangan 2.217,38 poin setara 24,27 persen hanya dalam kurun sekitar 55 hari kalender.
Tekanan terhadap pasar saham domestik juga dipengaruhi sentimen global. Indeks-indeks utama di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (13/3), memperpanjang koreksi secara mingguan.
Menurut riset Phintraco Sekuritas dalam laporan PHINTAS Weekly Market Review (16/3/2026), lonjakan harga minyak mentah menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar global. Harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel selama dua hari berturut-turut, sementara minyak WTI juga menguat di atas US$98 per barel.
Kondisi tersebut terjadi di tengah konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sehingga memunculkan kekhawatiran potensi stagflasi di pasar global. Sentimen ini ikut menekan bursa saham regional Asia pada perdagangan hari ini.
Related News
Animo Tukar Uang Pecahan Baru Meningkat Hampir Dua Kali Lipat
Hadapi Kemarau Lebih Awal, Petani Didorong Pakai Varietas Padi Adaptif
IHSG (16/3) Dibuka Tertekan di Awal Pekan, Ambruk 3,08 Persen ke 6.917
Sepakati Investasi Rp339 Triliun, Proyek Gas Masela Segera Dimulai
Mengekor Wall Street, IHSG Loyo
Tertekan, IHSG Menuju 7.071





