EmitenNews.com - Harga minyak internasional kembali naik ke kisaran USD110-120 per barel, yang menyeret mata uang pasar negara berkembang utama Asia, termasuk rupiah melemah ke level terendah sepanjang masa.

Bloomberg dan Yahoo Finance melaporkan bahwa harga kontrak berjangka Brent Juni di bursa ICE Futures Europe London naik hingga USD126,41 dalam perdagangan harian pada 30 Mei, tertinggi sejak Juni 2022. Harga kontrak berjangka West Texas Intermediate Juni di New York Mercantile Exchange juga melampaui USD110, menyentuh USD110,93.

Lonjakan harga minyak mentah terbaru didorong oleh kekhawatiran pasokan energi yang muncul akibat perang dengan Iran. Kekhawatiran pemblokiran Selat Hormuz meningkatkan kecemasan pasar terhadap pasokan minyak global.

Kenaikan harga minyak sangat memukul mata uang pasar negara berkembang Asia karena ketergantungan mereka yang besar pada energi impor. Rupee India melemah menjadi 94,91 per dolar, naik 0,09% dari hari sebelumnya. Rupiah Indonesia turun 0,15% menjadi 17.345 per dolar. Peso Filipina juga turun menjadi 61,40 per dolar. Ketiga mata uang tersebut mencapai titik terendah sepanjang masa terhadap dolar.

“Realitas strukturalnya sangat berat bagi sebagian besar mata uang Asia,” kata Ashwin Vani, pendiri perusahaan investasi Asia Tenggara Alpha Vanyani Capital seperti dilansir media Korea, Bloomingbit.

Vani mengatakan rupiah dan peso Filipina adalah yang paling rentan. Jika gencatan senjata yang terhenti, blokade ganda Selat Hormuz, dan kenaikan harga yang tajam terjadi bersamaan, mata uang Asia akan kesulitan untuk keluar dari zona bahaya.

Dia menambahkan bahwa jika kerangka gencatan senjata runtuh, siklus resesi yang buruk dapat dimulai.

Bank sentral di kawasan ini bergerak untuk mempertahankan mata uang mereka. Bank Sentral India membuka jendela pertukaran dolar khusus untuk perusahaan penyulingan dan memberlakukan langkah-langkah yang membatasi bank untuk menawarkan produk perdagangan rupee di luar negeri.

Bank Indonesia mengatakan akan memperkuat intervensi di pasar valuta asing domestik dan luar negeri, sementara Bank Sentral Filipina mengisyaratkan dapat menaikkan suku bunga acuan untuk mengekang inflasi.(*)